Menanggapi hal ini, psikolog anak dari Tiga Generasi Saskhya Aulia Prima, MPsi, Psikolog, mengatakan mengajari pemahaman konsep menang-kalah memang penting dilakukan orang tua sejak dini. Pada anak yang memiliki saudara, menurut Saskhya akan lebih mudah mengajari kedua konsep itu.
"Pada anak di atas tujuh tahun, dia pasti sudah paham konsep menang atau kalah dalam permainan atau kompetisi yang lain. Nah, orang tua perlu melihat seberapa besar pemaknaan anak terhadap kemenangan itu dan melihat apakah kira-kira ada kesombongan yang dirasakan anak," terang Saskhya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Atau, bisa juga anak diberi tahu berbagai macam video dengan tema empati pada orang lain, demikian disampaikan Saskhya usai Peluncuran Papan Permainan Indomilk Jagoan Boboi Boy di Bunga Rampai Resto, Jl Teuku Cik Ditiro, Jakarta, Rabu (16/3/2016).
Baca juga: Kerja Bukan Alasan, Ini Cara Orang Tua Penuhi Waktu Bermain dengan Anak
Sebaliknya, ketika anak sering kalah, jangan malah marahi atau mengejeknya. Dengan begitu, justru anak akan merasa down dan putus asa. Sebaiknya, orang tua kembali mengenal apa kemampuan yang cenderung dimiliki anak. Menurut Saskhya, di usia 7-10 tahun, bakat anak sudah mulai terlihat.
"Kalau anak terampil di mewarnai, asah terus kemampuan dia,temui dengan teman-temannya yang juga jago mewarnai. Tapi jangan tiba-tiba langsung diikutin lomba ya. Intinya terus semangati anak," tutur Saskhya.
Meski demikian, orang tua bisa menilai jika anak tidak tertarik dengan suatu kegiatan tertentu. Ciri-cirinya, anak akan ogah-ogahan melakukan hal itu dan mencari segala alasan untuk menghindar. Jika seperti itu, orang tua bisa mengganti sejenak kegiatan tersebut dengan kegiatan lain yang dilakukan anak. Namun, jika sudah diselingi kegiatan yang disukai tapi anak tetap ogah-ogahan, bisa saja anak memang tidak menyukai kegiatan itu.
Saskhya mengingatkan, ketika anak melakukan sesuatu yang bersifat kompetitif, orang tua jangan terlalu sering memberi kritik. Biarkan dulu anak memilih langkah yang dilakukan, baru setelah kompetisi usai, beri pengarahan pada anak. Sebab, Saskhya mengatakan terlalu banyak mengkritik langkah yang dilakukan anak akan membuat anak tidak punya kebiasaan memilih keputusan, tidak punya kemandirian berpikir, tidak berani melangkah.
Baca juga: Tambah Waktu Bermain Anak di Luar Rumah Kurangi Risiko Mata Minus (rdn/up)











































