"Asma nokturnal adalah area yang sering dibicarakan oleh pasien tapi masih sedikit studi yang melihat asma nokturnal pada anak," kata pemimpin studi dr Caroline C. Horner dari St. Louis Children's Hospital, Amerika Serikat, dikutip dari Reuters, Senin (2/5/2016).
Horner mengatakan penyebab stres atau stresor anak tak harus selalu peristiwa besar dalam hidup. Pengalaman buruk sehari-hari seperti ketika bermain dengan teman atau di sekolah sudah cukup berperan memicu serangan asma.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar 46 anak dengan asma yang diteliti menunjukkan bahwa ketika mereka menilai harinya 'buruk', maka esok harinya kemungkinan anak terbangun dengan gejala asma meningkat bisa hingga dua kali lipat.
"Pertanyaan globalnya adalah 'bagaimana hari kamu', berdasarkan hal-hal rutinitas setiap hari yang mungkin bisa membuat stres," lanjut Horner.
Studi yang telah dipublikasi di Journal of Allergy and Clinical Immunology ini menemukan juga bahwa ketika anak stres dan mengalami serangan asma di malam hari, esok harinya gejala yang timbul bisa lebih parah. Anak membutuhkan obat yang lebih banyak dan lebih sering bolos sekolah.
"Jadi jika Anda terbangun di malam hari (karena asma -red), Anda akan lebih mungkin mengalami hal-hal yang menyulitkan esok harinya," tutup Horner.
Baca juga: Manfaat ASI bagi si Kecil: Turunkan Risiko Diare, Asma, hingga Pneumonia (fds/vit)











































