Diungkapkan psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani, MPsi atau akrab disapa Nina, pada kelompok tertentu memang ada keinginan untuk 'berkuasa' di sekolah. Sayangnya, keinginan ini kadang tidak bisa terpenuhi dengan adanya prestasi. Sehingga, posisi di sekolah ketika remaja duduk di bangku kelas XII dijadikan 'kekuatan' bagi mereka.
"Tapi kan disebutkan si kakak kelas ini lihat adik kelasnya juga ke club ya. Nah di situ kakak kelas bisa menganggap harusnya adik kelasnya ini nggak setara dengan dia dan nggak pergi ke club. Memang seharusnya ketika melihat itu mungkin bisa dilaporkan ke pihak sekolah. Tapi karena si anak ini terprovokasi, maka mereka melakukan teguran itu dengan bullying," kata Nina saat berbincang dengan detikHealth.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Stres Jadi Pemicu Tingginya Kasus Bullying pada Anak
Ditambah lagi dengan pemikiran bahwa senior selalu benar. Hanya saja, Nina mengatakan kebetulan si junior juga tidak bisa melawan. Seharusnya, jika si adik kelas memiliki keberanian dan mereka dengan kompak melawan si kakak kelas, bullying bisa saja dihindari.
"Kemudian adanya lokasi yang nggak terawasi, kadang di kelas yang kosong atau di tempat yang tidak diawasi guru juga bisa memberi kesempatan murid melakukan bullying pada murid yang lain," tutur Nina.
Meski tidak selalu berkaitan, ibu dua anak ini juga mengingatkan bahwa pola asuh orang tua juga turut berperan. Pola asuh yang cenderung menggunakan kekerasan saat menegur anak atau yang terlalu otoriter juga bisa menjadi contoh bagi anak. Contohnya saja ketika orang tua selalu menyelesaikan masalah dengan paksaan atau kekerasan.
"Misal si ayah ini keras sama ibunya saat lagi ada masalah. Jadinya anak melihat bahwa oke-oke saja jika dia mau menegur temannya atau menyelesaikan masalah dengan cara kekerasan. Selain itu, perlu dilihat juga bagaimana lingkungan pergaulan si anak," tambah Nina.
Sebab, anak yang bergaul dengan teman yang memang cenderung suka berlaku kasar maka lambat laun akan terpengaruh. Untuk itu, orang tua menurut Nina juga perlu mendeteksi apakah si anak bisa berpotensi melakukan bullying. Caranya, dengan melihat apakah teman-teman anak cenderung kasar, apakah si anak suka mengatai orang lain, memiliki perilaku kasar pada orang lain atau binatang, dan merasa baik-baik saja ketika melakukan kekerasan.
Baca juga: Jangan Mem-bully Anak dengan Down Syndrome!
(rdn/vit)











































