Jumat, 13 Mei 2016 11:32 WIB

Anak 'Nakal'? Kemungkinan Dua Hal Ini Jadi Sumber Masalahnya

Firdaus Anwar - detikHealth
Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Jakarta - Masyarakat umumnya menganggap anak yang sering tak patuh pada orang tua dan berperilaku tak wajar adalah anak yang nakal. Padahal menurut pakar, anak-anak tersebut sering kali hanya korban dari lingkungan yang tak kondusif.

Penyebab 'kenakalan' pada anak ini secara garis besar bisa karena dua hal yaitu masalah sensoris atau memang masalah perilaku karena pola asuh. Sayangnya orang sekitar termasuk orang tua kadang tak mengerti bahwa anak punya kesulitan tersebut.

Ahli okupasi terapis Sally Juanda dari Loma Linda University menjelaskan untuk masalah sensoris ini gangguannya bersumber dari pancaindra. Contoh bisa jadi anak tak menjawab panggilan guru di kelas karena memang telinganya sulit mendengar.

Sementara itu untuk 'kenakalan' karena masalah perilaku sumbernya bisa jadi ada pada pola asuh orang tua. Hal ini karena perilaku anak sangat dipengaruhi oleh perilaku orang-orang sekitarnya juga.

Baca juga: Anak suka Mengganggu dan Bikin Onar? Ini yang Sebaiknya Dilakukan Orang Tua

dr Ahmad Suryawan atau yang biasa dipanggil dr Wawan dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSU Dr. Soetomo Surabaya mengatakan perkembangan anak terutama otak secara garis besar terjadi dalam tiga tahap yaitu pada umur nol hingga satu tahun, satu hingga tiga tahun, dan tiga hingga enam tahun. Dalam tiga tahap tersebut sikap anak bisa berubah dan orang tua perlu menyikapinya berbeda-beda.

"Banyak orangtua datang ke saya membawa anaknya dengan keluhan bahwa anaknya susah diatur, bandel, dan hiperaktif. Setelah saya periksa ternyata tidak ada masalah apa-apa dengan anaknya, nah kalau gini kan berarti yang bermasalah orangtuanya dong?" ujar dr Wawan beberapa waktu lalu ketika mengisi seminar anak.

Pada tahap perkembangan otak yang ketiga di umur tiga sampai enam tahun, otak bagian depan mengalami perkembangan pesat. Otak pada bagian ini berperan pada daya imajinasi anak. Di umur dengan daya imajinasi tinggi, sang anak akan mengikuti apa yang dibayangkannya. Orangtua yang memilki anak pada tahap ini disarankan untuk memberikan perhatian dan kontrol penuh pada apa saja yang mempengaruhi imajinasi anak seperti tontonan, bacaan, dan pengaruh dari luar lain yang memiliki efek negatif.

Baca juga: Tenang, Psikolog Bilang Anak Nakal dan Banyak Akal itu Normal (fds/vit)