Kamis, 02 Jun 2016 12:38 WIB

Kolom Dokter

Ini Pentingnya Pemenuhan Gizi Seimbang untuk Anak

dr Ledy Kumala Devi - detikHealth
Foto: dok
Jakarta - Anak merupakan investasi sumber daya manusia (SDM) di masa depan. Karena itu kecukupan status gizinya sejak lahir, bahkan sejak dalam kandungan, perlu mendapat perhatian khusus.

Ibu hamil mungkin sering mendengar pendapat: apa yang dimakan ibu itulah yang dimakan janin, kalau ibunya merokok maka berarti pula janinnya merokok, dan jika ibunya minum minuman keras maka janinnya juga ikut minum minuman keras. Pendapat ini memang tidak berlebihan.

Setelah lahir, apa yang dimakan oleh bayi sejak dini merupakan fondasi yang penting bagi kesehatan dan kesejahteraannya di masa depan. Balita akan sehat jika sejak awal kehidupannya sudah diberi makanan sehat dan seimbang. Dengan pemenuhuhan gizi yang seimbang ini maka kualitas SDM yang dihasilkan bisa lebih optimal.

Seperti apakah gizi seimbang itu? Yakni asupan yang terdiri dari asupan karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral. Kandungan gizi tersebut dapat diperoleh dari makanan yang dikonsumsi, serta berguna untuk pertumbuhan otak (intelegensia) dan pertumbuhan fisik.

Untuk mengetahui status gizi dan kesehatan anak secara menyeluruh dapat dilihat mulai dari penampilan umum (berat badan dan tinggi badan), tanda-tanda fisik, motorik, fungsional, emosi dan kognisi anak. Berdasarkan pengukuran antropometri, maka anak yang sehat, bertambah umur, bertambah berat dan tinggi dikaitkan dengan kecukupan asupan makronutrien, kalsium, magnesium, fosfor, vitamin D, yodium dan seng.

Berdasarkan Riskesdas, prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) belum diturunkan secara signifikan dan pada level 10 hingga 11 persen. Sementara, ketika anak pada usia balita, permasalahan tidak hanya pada menurunkan prevalensi gizi kurang (13,0 - 13,9 persen) dan gizi buruk (5,4 - 5,7 persen). Sebab pada saat bersamaan Indonesia berhadapan dengan semakin meningkatnya prevalensi anak kegemukan (11,9 - 14 persen).

Sementara menjelang berakhirnya usia anak, yaitu saat remaja 16-18 tahun, prevalensi remaja gemuk meningkat drastis dari 1,4 persen pada 2010 menjadi 7,3 persen pada 2013.

Solusi lainnya adalah gerakan nasional untuk monitoring pertumbuhan anak. Hal ini penting untuk mengetahui perkembangan anak secara jelas sesuai dengan usianya. Jika ada kelainan maka dicari solusinya.

Orang tua, tuturnya, harus mengetahui fase pertumbuhan anaknya sedini mungkin. Karena, kondisi kesehatan yang dialami anak berpengaruh terhadap pertumbuhannya. Pada usia 0-6 tahun anak mengalami pertumbuhan cepat. Usia 6-2 tahun pertumbuhannya datar. Sementara pada usia 12-18 tahun anak mengalami pertumbuhan cepat.

Pada usia 0-6 tahun pertumbuhan otak anak mencapai 95 persen. Di atas usia 6 tahun, perkembangan otaknya hanya lima persen. Karena itu, usia 0-6 tahun merupakan fase penting bagi anak atau windows of opportunity. Pada masa ini nutrisi dan eksperimen orang tuanya dibutuhkan anak.

Indonesia memiliki kesepakatan tanda anak sehat bergizi baik yang terdiri dari 10
kriteria, yaitu:

1. Bertambah umur, bertambah padat, bertambah tinggi.
2. Postur tubuh tegap dan otot padat
3. Rambut berkilau dan kuat.
4. Kulit dan kuku bersih dan tidak pucat.
5. Wajah ceria, mata bening dan bibir segar.
6. Gigi bersih dan gusi merah muda
7. Nafsu makan baik dan buang air besar teratur.
8. Bergerak aktif dan berbicara lancar sesuai umur.
9. Penuh perhatian dan bereaksi aktif.
10.Tidur nyenyak.

*) dr Ledy Kumala Devi adalah dokter umum yang bertugas di RS Kanker Dharmais. (vit/vit)