"Nggak apa-apa sih, itu fase eksplorasi. Itu kan tahapan normal. Sekarang kan banyak juga ibu-ibu ngajak anaknya yang masih kecil gitu ke salon, tangannya masih kecil-kecil gitu dipakaiin kutek. Asal nggak berlebihan nggak apa-apa sih," tegas psikolog anak dan remaja Sutji Sosrowardojo.
Ditemui usai Media Gathering 'Drink Move Be Strong' di The Hermitage, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (21/6/2016), Sutji mengatakan justru dengan begitu anak sedang memainkan perannya sesuai dengan gendernya. Di mana anak tahu bahwa sebagai perempuan memang seharusnya seperti sang Bunda yang rajin merawat diri misalnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, ketika membolehkan anak bereksplorasi dengan aktivitas bersolek, Sutji mengingatkan jangan sampai orang tua lupa akan pentingnya pembentukan karakter. Sehingga, anak tak melulu hanya melakukan 'hobi'-nya bersolek, tetapi juga ada kegiatan lain.
"Kegiatan kayak gitu, dandan-dandan gitu ya 5-10 persen dari kegiatan anaklah. Sisanya aspek spiritual, pendidikan, dan yang lainnya itu jangan sampai dilupakan. Kayak anak perempuan main dandan-dandanan itu kan pemanis juga ya," lanjut Sutji.
Kemudian, dengan bermain pura-pura bersolek atau ikut sang ibu pergi ke salon menurut Sutji juga bisa jadi momen bonding ibu dan anak. Meskipun, menjalin bonding dengan anak melalui kegiatan yang bersifat feminin bisa saja dilakukan ibu misalnya dengan mengajak anak memasak bersama.
Baca juga: Saran Psikolog untuk Ortu Saat Hadapi Anak yang Terlalu Genit di Masa Puber
(rdn/vit)











































