Misal untuk asupan karbohidrat, tak harus nasi, tetapi bisa juga roti atau biji-bijian yang lain seperti kacang hijau dan kacang merah. Protein bisa diambil dari tahu, tempe, ayam, ikan dan daging, dengan vitamin dan mineral dari sayur dan buah-buahan.
"Kalau buah saya kira nggak semua anak nggak suka, tapi kalau sayur, memang itu harus dimaklumi karena rasanya hambar. Jadi orang tua harus pinter mengkreasikan menunya," saran dr Ristantio, SpA, M.Kes., dari RS Akademik UGM Yogyakarta kepada detikHealth.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konsumsi buah selepas makan juga disarankan untuk dilakukan menjelang makan sahur.
Baca juga: Trik Agar Anak Tetap Doyan Makan Sayur dan Buah Saat Sedang Belajar Puasa
Lalu perlukah minum susu untuk menambah nutrisinya? dr Ristan mengatakan untuk anak berusia di atas satu tahun, susu tak begitu dibutuhkan. Tetapi bisa juga diberikan, meski 1-2 kali dalam sehari saja sudah cukup.
"Susunya jangan di awal ya, sebab kalau dalam perut kosong langsung minum susu nanti dia maemnya kurang. Jadi setelah makan 1-2 jam baru boleh minum susu. Sahur juga jangan begitu bangun minum susu," tegasnya.
Akan tetapi ketika makan sahur, dr Maria Martina Siboe, S.Kom., B.Med.Sc, SpA, mengingatkan, anak cenderung tak kuasa menahan kantuk sehingga berikan makanan yang bisa ditolerir olehnya namun juga telah disesuaikan dengan kebutuhan anak.
Usahakan juga sehabis makan tidak langsung tidur. "Nanti bisa meng-induce peningkatan asam lambung, anak jadi perutnya perih trus dipaksakan untuk puasa malah nggak bagus," papar dokter yang berpraktik di RSIA YPK Mandiri, Menteng Jakarta Pusat tersebut.
Memang tidak ada jeda pasti antara makan sahur dengan tidur, namun bila berpatokan pada lamanya proses pengosongan lambung yang menghabiskan waktu 3-4 jam, maka bisa disimpulkan jika anak baiknya diperbolehkan tidur lagi 1-2 jam selepas makan sahur.
dr Maria menegaskan, tak usah khawatir anak sampai mengalami dehidrasi selama puasa, sebab tubuh mempunyai cadangan cairan tersendiri. "Tergantung kondisinya. Kalau anak diare atau muntah-muntah disuruh puasa ya dehidrasi," imbuhnya.
Diingatkan dr Ristan, pemenuhan kebutuhan cairan yang terpenting adalah frekuensinya, bukan volumenya. Makin sering makin baik, yaitu di kisaran 150-200 cc dalam sehari.
Jika tidak, bisa diganti dengan mengonsumsi buah yang banyak mengandung air dan menghindari keluar ruangan di siang hari, atau pakaikan alat pelindung dari sinar matahari seperti topi atau payung.
Baca juga: Tips Agar Anak Tetap Fit Selama Puasa Sebulan Penuh (lll/up)











































