Kamis, 14 Jul 2016 15:01 WIB

Si Kecil Ikut Main Pokemon Go? Begini Kata Psikolog

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: dian/detikHealth Foto: dian/detikHealth
Jakarta - Anak-anak sudah memiliki gadget sendiri, lantas ia memainkan game berbasis augmented reality, Pokemon Go? Ya, hal itu bisa saja terjadi. Contohnya saja anak perempuan yang merupakan kakak adik, Milea (15) dan Shandy (11)

Dikatakan sang Bunda, Keke (43), kurang lebih sejak sebulan lalu Milea dan Shandy sudah memainkan games tersebut. Apalagi, tepat dengan momen liburan sekolah. Namun, dalam memainkan games tersebut sudah ada aturan yang diterapkan Keke.

"Karena sekarang masih liburan sekolah jadi ya fine-fine saja. Nanti kalau sudah masuk sekolah, asal tahu waktu, mainnya nggak pas jam pelajaran, nggak pas mau ada ulangan, ya nggak apa-apa. Jadinya memang anak-anakku nggak terlalu addict ya," tutur Keke saat berbincang dengan detikHealth.

Baca juga: Kekhawatiran yang Muncul Saat Anak Main Pokemon Go Tanpa Pengawasan Ortu

Saat di rumah, paling jauh Milea dan sang adik berburu Pokemon sampai di teras. Ketika pergi pun, saat di mobil atau mal misalnya, kakak beradik itu tetap berburu Pokemon tetapi tidak terlalu memaksakan diri. Sebab, sejak dini Keke memang sudah menanamkan agar sang anak tidak lupa melakukan tugasnya yang lain karena terlalu asyik bermain game.

"Jadi memang biasa aja. Anak-anak pun kebetulan nggak pernah ngeyel ya kalau dibilangin. Kalau ngeyel ya dipotong saja uang sakunya," kata Keke sembari tertawa.

Nah, terkait hal ini, psikolog anak dan remaja dari RaQQi - Human Development & Learning Centre, Ratih Zulhaqqi mengatakan bahwa game ini kurang cocok jika dimainkan oleh anak-anak. Apalagi jika anak belum punya self regulation. Sebab, orang dewasa saja pun bisa saja kurang berhati-hati ketika berburu Pokemon.

Alasan lainnya mengapa games ini tidak disarankan untuk anak-anak karena menurut Ratih, Pokemon Go bersifat multitasking dan butuh kontrol diri sehingga si pemain tidak terlalu memaksakan untuk berburu pokemon.

"Kita harus tahu kapan main atau kapan setop. Misalnya pada anak yang kontrol dirinya kurang, di sekolah terus tahu-tahu keluar aja gitu dari sekolah, kan bahaya," tutur Ratih.

Baca juga: Saran Psikolog Agar Bullying di Sekolah Tak Terus-terusan Terulang

(rdn/vit)
News Feed