Selasa, 26 Jul 2016 16:53 WIB

Bermain Video Game Picu Perilaku Kekerasan pada Anak? Ini Kata Pakar

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Ilustrasi anak bermain game (Foto: Rachman Haryanto) Ilustrasi anak bermain game (Foto: Rachman Haryanto)
Jakarta - Sikap dan perilaku kasar pada anak bisa muncul oleh berbagai faktor penyebab, salah satunya dikatakan karena kebiasaan anak bermain video game. Benarkah demikian?

Menurut American Psychological Association dan American Academy of Pediatrics, lebih dari 90 persen anak-anak di Amerika Serikat mengaku pernah bermain video game. Yang mengkhawatirkan, 85 persen alias sebagian besar video game yang ada di pasaran justru mengandung beberapa bentuk kekerasan.

Dalam pernyataannya, American Psychological Association (APA) juga menyebutkan bahwa ada beberapa penelitian yang menunjukkan hubungan antara penggunaan video game dengan adegan kekerasan dan peningkatan perilaku agresif. Sebaliknya, justru kondisi ini dibarengi dengan penurunan perilaku empati.

Selain itu, APA juga memperingatkan bahwa kekerasan media dapat menjadi bahan panutan bagi anak-anak. Oleh sebab itu, ia menganjurkan orang tua lebih cermat dalam memilih dan memberikan video game untuk anak-anaknya.

Baca juga: Riset: Sering Kepanasan Dorong Meningkatnya Tindak Kriminal

Secara keseluruhan, ringkasan dari 400 studi sebelumnya mengungkapkan adanya hubungan yang signifikan antara paparan kekerasan dari media, termasuk video game, dengan perilaku agresif dan perasaan marah.

Tak terlalu sependapat dengan teori tersebut, profesor sosiologi di Western Michigan University, Whitney DeCamp, justru mengatakan tidak ada kaitan yang berarti antara kedua hal tersebut. Masih ada faktor-faktor lain yang juga memengaruhi anak, terutama dari faktor lingkungan dan orang terdekat.

Demikian juga disampaikan Christopher Ferguson dari Stetson University. Profesor di bidang psikologi ini bahkan menyebutkan bahwa video game dengan adegan kekerasan justru dapat membantu mengurangi kekerasan sosial di kalangan anak dan remaja.

"Pada dasarnya, dengan menjaga anak-anak muda sibuk dengan hal-hal yang mereka sukai, mereka akan terhindar dari stres dan masalah sosial lainnya. Asalkan, orang tua juga tetap memberikan perhatian lebih," pesan Ferguson.

Baca juga: Tanggapan Psikolog ketika Ortu Bolehkan Anak Punya TV di Kamarnya

(ajg/vit)
News Feed