Pada dasarnya, anak bisa terkena diabetes dari beragam faktor risiko. Bisa karena pola makannya, kegemukan, atau penyakit lain yang berawal dari kegemukan itu sendiri. Salah satunya penyakit hati non-alkoholik (non-alcoholic fatty liver disease/NAFLD), kelebihan lemak dalam hati.
Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan di AS mengungkap, sepertiga anak dengan NAFLD berisiko tinggi terkena diabetes tipe 2. Hal ini didasarkan pada pengamatan terhadap 675 anak dengan NAFLD berusia di bawah 18 tahun, dengan indeks massa tubuh (BMI) rata-rata adalah 32.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun dari pengamatan kami, NAFLD adalah salah satu faktor risiko terbesar dari diabetes tipe 2 pada anak-anak," simpul Dr Jeffrey B Schwimmer, yang juga direktur Fatty Liver Clinic, Rady Children's Hospital, San Diego seperti dilaporkan Foxnews.
Baca juga: Meski Orang Tua Diabetes, Anak Tidak Akan Ikut Kena Jika Jaga Pola Hidup
Temuan ini tidak dapat disepelekan karena pada pasien NAFLD yang juga mengidap diabetes tipe 2, mereka memiliki risiko lebih tinggi untuk terserang penyakit hati yang lebih buruk yaitu nonalcoholic steatohepatitis (NASH), yang bisa mengakibatkan sirosis, penyakit hati stadium akhir hingga kanker.
Apalagi NAFLD dikenal hanya bisa dikendalikan namun tak bisa disembuhkan. Terbukti dari studi yang sama juga ditemukan lebih dari 40 persen anak dengan diabetes tipe 2 juga mengidap NASH.
"Untuk itu perhatian khusus harus diberikan kepada anak dengan kombinasi dua kondisi ini karena mereka punya risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kecacatan bahkan meninggal lebih cepat," tandas Schwimmer seperti dikutip dari Diabetes.co.uk, Kamis (4/8/2016).
Treatment khusus yang dimaksud di antaranya perbaikan pola makan dan memberikan rejim latihan fisik yang dapat menurunkan berat badan si anak, tutupnya.
Beberapa waktu lalu, konsultan gizi Jansen Ongko menegaskan agar anak-anak dijauhkan dari junk food, yaitu makanan yang minim gizi, vitamin dan mineral serta tinggi kalori, lemak dan gula. Mengapa?
"Anak-anak itu taste bud atau indra perasanya baru tumbuh, jadi gampang ketagihan kalau diberikan junk food. Ditambah penyedap, pemanis, pewarna, anak pasti jadi lebih suka makan makanan buatan restoran daripada makanan buatan ibu," tutur Jansen.
Hindari juga kebiasaan membelikan junk food jika anak berprestasi atau saat merayakan sesuatu. Dengan euforia tersebut, efek adiktif junk food bisa semakin meningkat dan melekat pada anak.
Baca juga: Pola Makan Sehat Sejak Masa Kanak-kanak Bantu Cegah Diabetes (lll/vit)










































