"Ini jadi tantangan tersendiri di mana kita bisa memenuhi kebutuhan nutrisi atau gizi anak usia sekolah. Nah, untuk memenuhinya kita buat melalui inisiasi yang disebut sebagai program gizi anak sekolah," kata Anung usai Pengumuman Pemenang Lomba Sekolah Sehat Nasional 2016 di Grand Sahid Jaya Hotel, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (18/8/2016).
"Dulu ada program PMTAS atau pemberian makanan tambahan anak sekolah, seperti milik Kemenkes saja. Tapi sekarang Kemendikbud juga ambil peran. Saat ini sudah coba dilakukan di NTT dan di beberapa daerah, ada 1.500 SD," lanjut Anung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam program ini, disiapkan menu dengan kandungan gizi yang mencukupi nutrisi anak untuk usia sekolah. Ditegaskan Anung, pelaksanaan program ini perlu kerja sama berbagai sektor. Pemerintah daerah pun diharap aktif untuk mendukung program ini.
Dalam rangka meningkatkan taraf kesehatan anak-anak usia sekolah, tengah digodok pula kegiatan senam kesegaran jasmani (SKJ) di sekolah. Kini, Kemenkes sudah menyiapkan beberapa modul terkait SKJ yang disesuaikan dengan kearifan lokal daerah.
"Misalnya seperti poco-poco, itu bisa digunakan. Pokoknya diharapkan ada model senam untuk kebugaran," pungkas Anung.
Indonesia mengalami beban ganda (double burden) akibat tingginya prevalensi anak kekurangan gizi dan juga anak kelebihan gizi. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan prevalensi anak kurang gizi meningkat dari 17,9 persen pada 2010 menjadi 19,6 persen di 2013. Di lain pihak, anak obesitas juga naik dari sebelumnya 6,6 persen menjadi 8,1 persen.
Baca juga: Demi Anak Sehat, Dokter Kecil Dapat Pelatihan Online tentang Gizi
(rdn/vit)











































