Rabu, 14 Sep 2016 12:37 WIB

Kematangan Sensoris Bisa Turut Tingkatkan Rasa Percaya Diri Anak

Puti Aini Yasmin - detikHealth
Foto: thinkstock
Jakarta - Melakukan aneka hal dengan baik bisa mendongkrak rasa percaya diri anak. Nah, kematangan sensoris bisa membantu tingkatkan rasa percaya diri anak lho. Sebab kematangan sensoris bisa mendukung proses belajar yang lebih baik.

Dengan proses belajar yang baik, maka kemampuan anak semakin berkembang. Akhirnya anak tidak takut mencoba hal-hal baru. Dengan menjajal hal-hal baru, pengalaman anak akan bertambah dan ini bisa membuatnya lebih percaya diri.

Sebaliknya jika anak tidak matang secara sensoris, biasanya takut mencoba hal-hal baru. Anak menjadi tidak percaya diri karena sebelum mencoba selalu merasa dirinya tidak bisa.

"Anak jadi nggak percaya diri karena berpikir 'ah, nanti aku nggak bisa' atau 'aku bodoh'. Karena itu memang ada harus ada kematangan sensoris yang harus dia dapatin, sebelum dia akhirnya bisa," tutur psikolog anak, Najeela Shihab, dalam perbincangan dengan detikHealth.

Nah, pada anak yang memiliki masalah sensoris, biasanya perkembangan motorik juga terhambat. Anak pun kerap menemui masalah dalam sosialisasi dan emosi. Bahkan anak bisa frustasi atas sesuatu yang dirasakan kebanyakan orang dianggap biasa.

"Misalnya ketika ada sedikit suara, anak langsung bilang 'aduh ini kok berisik banget' padahal buat orang lain itu suaranya biasa saja. Lalu jadi merasa 'kok semuanya bisa tapi aku nggak bisa ngerjain tugasnya'. Itu karena nggak bisa konsentrasi," papar Najeela.

Ilustrasi anak main (Foto: Thinkstock)

Baca juga: Baca juga: Cara yang Bisa Dilakukan untuk Beri Pengalaman Sensoris Anak di Bawah 24 Bulan

Dalam beberapa kasus yang ditemui perempuan yang biasa disapa Ela ini, pengasuhan yang over protective bisa mengakibatkan anak tidak matang secara sensoris. Karena khawatir berlebihan anaknya kotor dan terluka, beberapa orang tua melarang anaknya melakukan kegiatan tertentu padahal si kecil sedang mengeksplorasi lingkungannya.

Untuk membantu mematangkan sensoris anak, terapi sensoris memang bisa dilakukan, tapi itu saja tidak cukup. Sebab orang tua yang over protective perlu mengubah pandangan dan sikapnya. Mengawasi anak saat bermain itu sangat wajib dilakukan orang tua, namun mengawasi bukanlah melarang anak mengeskplorasi lingkungannya.

"Jadi kalau kita melihat masalah pada anak, kita nggak bisa membebani pada anak sendiri, tapi (dilihat) dari pengasuhan pendidikan di rumah dan di sekolah, bareng-bareng sih (dalam memberikan terapi sensoris)," sambung Ela.

Ketika terapi sudah dilakukan, maka yang perlu dipertahankan adalah konsistensinya. Jika tidak konsisten maka masalah tidak akan selesai dan berlarut-larut.

Lantas apakah terapi sensoris untuk anak berusia di bawah enam tahun dan di atas enam tahun sama? Menurut Ela, terapi diberikan tergantung kebutuhan. Dalam beberapa kasus ada teknik yang sama. Meski sudah berusia enam tahun ke atas, bisa saja anak berlatih merangkak atau melompat-lompat.

"Jadi hubungan-hubungan yang mereka belum sempat dapetin bisa diganti, dikasih bantuan skill-nya," jelasnya.

Untuk waktu terapinya, jika intensif dilakukan maka dalam beberapa bulan sudah terlihat hasilnya. Meskipun memang ini semua tergantung derajat ketidakmatangan sensoris pada masing-masing anak.

"Tapi dalam latihan sebulan pun kita masih bisa lihat perubahan-perubahan, yang penting kan konsistensi," imbuh Ela.

Baca juga: Aneka Kegiatan Ini Bisa Perkaya Pengalaman Sensoris Anak di Bawah 4 Tahun

(vit/vit)