Meski begitu, psikolog asal Amerika Serikat, Dr Susan Heitler, mengatakan mengisap jempol tak hanya berpengaruh terhadap fisik anak. Berdasarkan beberapa penelitian yang sudah diterbitkan, mengisap jempol juga memiliki pengaruh terhadap kepribadian anak, terutama saat mereka masih berusia balita (bawah lima tahun).
"Namun patut diingat, manfaat ini hanya berlaku jika mengisap jempol dilakukan hingga berusia 4-5 tahun. Jika anak sudah lebih besar dari itu, orang tua sebaiknya melakukan intervensi agar tidak terbawa hingga dewasa," ungkap Dr Dr Heitler.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Kebiasaan Mengisap Jempol Harus Dihilangkan Saat Anak Berusia 6 Tahun
1. Lebih singkat dirawat di rumah sakit
Sebuah penelitian pada bayi yang berusia di bawah satu tahun menyebut bayi yang mengisap jempol atau empeng memiliki masa perawatan yang lebih singkat di rumah sakit.
Hal ini karena mengisap jempol membuat mereka lebih tenang dan tidak menghabiskan energi untuk menangis.
2. Tak mudah tantrum
Seperti dijelaskan sebelumnya, kebiasaan mengisap jempol membuat anak mengikuti ritme bernapas yang lebih tenang. Hal ini juga memengaruhi detak jantungnya, sehingga mereka lebih tenang dan tak mudah mengalami tantrum.
3. Lebih independen secara emosional
Dr Heitler menyebut anak yang mengisap jempol juga lebih gampang menjadi independen secara emosional. Hal ini dibuktikan dari penelitian yang dilakukan pada anak, ibu dan mainan dalam sebuah ruangan.
Diketahui anak yang mengisap jempol akan lebih lama bermain sendiri dengan mainan meskipun di ruangan yang sama ada ibunya.
4. Percaya diri
Anak yang mengisap jempol juga memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi. Dalam artian, mereka lebih mau untuk bermain sendiri karena jika pun mereka merasa gelisah atau kesal, mereka bisa mengisap jempol untuk menenangkan diri.
Baca juga: Cara Hentikan Kebiasaan Mengisap Jempol Anak (mrs/vit)











































