Seperti penuturan psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani, MPsi, Psikolog, jika anak mengalami trauma fisik misalnya bagian tubuhnya ada yang terluka, maka obati dulu luka fisik anak. Kemudian, jauhkan anak dari perilaku.
"Lalu ajak anak bicara apa yang membuat dia takut. Misalnya, tanya 'Menurut kamu apa hal yang kamu rasakan kemarin dan sangat menyakitkan serta ingin dihindari?'," kata wanita yang akrab disapa Nina ini saat berbincang dengan detikHealth.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain jauhkan dari pelaku, jauhkan pula anak dari hal-hal yang bisa mengingatkan dia pada peristiwa tersebut. Jika anak terlihat amat ketakutan, nilai sekolahnya menurun, terlihat depresi, atau tidak mau bergaul, Nina menyarankan ajak anak ke psikolog untuk mendapatkan konseling.
Baca juga: Jangan Salah, Trauma Psikis pun Bisa Terjadi Saat Anak Alami Kekerasan Fisik
"Orang di sekitarnya, terutama orang tua juga mesti sabar. Kalau anak tahu-tahu rewel, marah-marah karena dia stres, terus banting-banting barang, mengertilah bahwa itu mungkin ekspresi dari stres yang dialami anak. Untuk itu, orang tua, pengasuh, atau keluarga lain perlu tetap mendukung anak dengan memintanya memberi tahu apa yang ia rasakan," papar Nina.
Pemilik akun Twitter @AnnaSurtiNina ini mengatakan berapa lama anak pulih dari trauma yang dialami, tergantung lagi dari intensitas dan frekuensi kekerasan yang diterima anak. Jika kekerasan yang ia alami memiliki intensitas berat dan frekuensi sering, anak bisa lebih lama pulih dan bisa tidak 100 persen pulih.
"Saat mengalami trauma, ibaratnya otak itu kayak selimut yang nguwel-nguwel. Terus saat dia konseling, lipatan-lipatan itu diberesin ulang. Nah, di ujung kan ada sisa lipatan ya. Lipatan, dalam hal ini trauma atau memori terhadap peristiwa itu bisa muncul lagi tanpa kita sadari," tutur Nina.
Baca juga: Tanda-tanda Anak Trauma Pasca Mengalami Kekerasan Fisik
(rdn/vit)











































