Setidaknya menurut penelitian terbaru dari University of College London, anak yang tidak tidur di jam yang sama setiap harinya berisiko 50 persen lebih besar untuk mengalami kegemukan maupun obesitas.
Peneliti memastikan temuan ini dengan melakukan pengamatan terhadap anak-anak yang lahir dari 19.244 keluarga di Inggris dalam kurun September 2000-Januari 2002. Peneliti juga mengumpulkan data tinggi dan berat anak ketika usianya mencapai 3, 5, 7 dan 11 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut peneliti, ketika jam tidur si anak berubah-ubah, maka ia akan mengalami semacam jetlag. Hal ini memicu penurunan hormon leptin yang berperan mengatur selera makan. Demikian seperti dilaporkan Daily Mail.
"Jam tidur yang tak pernah sama tadi memicu peningkatan selera makan serta konsumsi makanan yang padat energi, namun kurang nutrisi," jelas Yvonne Kelly, ketua tim peneliti.
Menariknya, peneliti juga mengatakan konsumsi minuman berpemanis buatan dan kebiasaan menonton televisi bukanlah pemicu utama kegemukan pada anak. Hal ini karena efeknya terhadap pengaturan hormon yang berkaitan dengan berat badan pada anak tidak sebesar kurang tidur.
Baca juga: Ingat Lho, Anak Obesitas Itu Bukan Berarti Terpenuhi Semua Gizinya
Kelly juga menyadari bahwa banyak orang tua yang membiarkan anak memilih jam tidur mereka sendiri atau membiarkan mereka terjaga hingga larut malam karena ritme kehidupan modern yang cenderung cepat. "Biasanya orang tua yang pulang malam ingin melihat anaknya dulu sebelum tidur, padahal ini tidak benar," imbuh Kelly.
Tak hanya kebiasaan tidur, Kelly juga menemukan bahwa dampak serupa juga dirasakan anak jika ia terbiasa melewatkan sarapan, dan memiliki ibu yang merokok ketika mengandung.
Bahkan pada kasus di mana ibu si anak merokok selama mengandung, risiko obesitas anaknya juga semakin tinggi melebihi anak yang hanya melewatkan sarapan dan kurang tidur.
Baca juga: Hadapi Perubahan Pola Tidur, Fresh Graduate Sulit Efektif Bekerja (lll/vit)











































