Riset sebelumnya membuktikan anak-anak berusia 8-14 tahun terlihat lebih impulsif dalam memilih makanan setelah menonton iklan. Hal ini disebabkan oleh area otak bernama ventromedial prefrontal cortex yang disebut menjadi lebih aktif ketika anak-anak memilih makanan setelah menyaksikan iklan.
Sayangnya, area otak ini mendorong anak untuk memilih makanan berdasarkan rasanya saja, bukan sehat tidaknya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu timnya mengadakan penelitian dengan melibatkan 60 anak berusia 2-5 tahun, yang disodori cuplikan serial Sesame Street selama 14 menit. Kemudian mereka dibagi ke dalam dua kelompok: di kelompok pertama, tayangan diselingi berbagai iklan makanan, sedangkan di kelompok kedua, tayangan diselingi iklan baju atau sepatu.
Sebelum dipertontonkan tayangan tersebut, tiap anak sudah disuguhi beragam camilan dan ditanya seberapa lapar mereka. Namun begitu percobaan dimulai, anak-anak hanya disuguhi dua jenis kudapan: dari jagung dan dari tepung graham (tepung terigu halus dicampur dengan bran dan wheatgerm yang digiling kasar). Iklan camilan jagung juga beberapa kali dimunculkan di tengah kartun.
Baca juga: Makan Sambil Nonton TV Picu Pola Makan Tidak Sehat
Hasilnya, partisipan anak yang menonton tayangan kartun dan diselingi iklan makanan memakan lebih banyak kalori daripada kelompok lainnya.
Bahkan anak-anak ini dilaporkan mengonsumsi lebih banyak camilan jagung yang iklannya muncul di tengah kartun. Padahal mereka belum pernah memakan camilan itu sebelumnya, atau bahkan tidak sedang lapar.
"Ini mengejutkan karena terlihat bahwa efek dari pengiklanan makanan ini begitu kuat hingga bisa menentukan perilaku makan tak sehat pada usia muda," tegas Emond seperti dilaporkan CNN.
Mengapa begitu? Sebab dengan terpapar iklan makanan ringan sejak kecil seperti ini sama halnya mengajari anak untuk merespons sinyal-sinyal internal yang berkaitan dengan rasa kenyang dan lapar, bahkan tanpa mereka sadari. "Pada akhirnya respons ini menyebabkan anak punya kebiasaan makan yang buruk dan memicu obesitas," imbuhnya.
Meski demikian, lanjut Emond, dari studi lain juga terungkap, ada beberapa anak yang memang memiliki kecenderungan genetik untuk merespons iklan makanan, sedangkan yang lain tidak.
Baca juga: Bintang Pop Jadi Bintang Iklan Junk Food Dituding Picu Obesitas di AS (lll/vit)











































