Jumat, 30 Des 2016 09:36 WIB

Menyikapi Anak yang Mesti Ditepuk-tepuk Ibunya Sebelum Tidur

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Masing-masing anak punya kebiasaan sendiri menjelang tidur. Ada yang minta dibacakan cerita, dielus-elus oleh sang ibu, atau bahkan ditepuk-tepuk tubuhnya oleh sang Bunda.

Hal ini dialami oleh salah satu pembaca detikHealth bernama Julia. Ibu dua anak ini mengatakan putri bungsunya yang berusia 6,5 tahun selalu minta ditepuk-tepuk punggungnya menjelang tidur. Si anak kadang menyebut 'ritual' itu dengan 'dipok-pok'.

"Tapi kalau saya lagi dinas ke luar kota, paling ayahnya yang pok-pokin dia. Atau kalau dia sudah capek banget ya tidur aja begitu," tutur Julia.

Terkait kebiasaan menjelang tidur anak, psikolog anak dari Klinik Tiga Generasi, Anastasia Satriyo MPsi, Psikolg menuturkan sejauh hal itu masih memungkinkan untuk dilakukan, maka tak masalah jika ayah atau ibu melakukannya.

"Ngelus-ngelus atau nepok-nepok anak kan nggak menghabiskan waktu banyak. Lagipula, nggak semua orang bisa mengungkapkan kebutuhan afeksinya (kebutuhan untuk diperhatikan dan merasa dicintai). Untuk anak, ditepuk-tepuk gitu pun bisa membuat dia merasa disayang dan nyaman kan," terang wanita yang akrab disapa Anas ini.

Baca juga: Ini Alasannya Kamar Tidur Anak Sebaiknya Tak Dilengkapi Televisi

Dalam perbincangan dengan detikHealth, Anas menambahkan dalam melakukan kebiasaan itu, penting juga bagi orang tua untuk mengatakan pada anak nanti jika usianya sudah lebih besar, anak tidak bisa lagi ditepuk-tepuk. Tapi, ada hal lain yang bisa dilakukan misalnya dipeluk ayah ibunya sebelum atau saat bangun tidur.

Menurut Anas, sebenarnya kebiasaan ini secara alami akan hilang seiring bertambahnya usia. Sama seperti kebiasaan anak memilin ujung bantal sebelum tidur. Umumnya, lanjut Anas, kebiasaan ini akan hilang saat anak duduk di bangku SMP karena anak sudah mulai fokus pada teman dan lingkungannya, terlebih anak lebih banyak melakukan aktivitas.

"Tapi kalau mau cari transisi bisa juga. Misal diganti sama baju ibunya ditaruh di samping anak biar anak nyaman. Terus main peluk-pelukan sebagai ganti aktivitas tepuk-tepuk itu. Intinya kalau anaknya masih SD terus cuma lima sampai sepuluh menit dipok-poknya nggak apa-apa ya. Tapi kalau sampai 1 jam gitu kan repot juga, perlu dicari aktivitas pengganti lainnya," kata Anas yang juga praktik di Klinik Petak Pintar, Mampang ini.

Baca juga: Banyak Ortu Bingung Cara Menidurkan Bayi, Konsultan Tidur Bayi pun Jadi Tren (rdn/vit)