Untuk itu, agar anak tidak bosan ketika diajak ke suatu tempat, orang tua juga perlu melakukan persiapan, demikian diutarakan psikolog anak dari Tiga Generasi, Anastasia Satriyo MPsi., Psikolog. Wanita yang akrab disapa Anas ini mencontohkan, ketika anak diajak ke rumah neneknya, bisa saja ia akan merasa bosan.
"Apalagi kalau nggak ada teman seumurannya. Untuk itu, mungkin anak bisa dikasih tahu dulu di rumah ini sampai jam berapa dan di sana dia bisa main apa aja. Kalau perlu bawa mainan dari rumah jadi di sana nggak bosan," tutur Anas saat berbincang dengan detikHealth.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi anak yang sudah lebih besar, misalnya yang berusia sekolah dasar, Ayah dan Ibu bisa melakukan negosiasi dengannya. Misalkan, ayah dan ibu mengatakan mungkin anak tidak suka menunggu ayah dan ibunya bertemu dengan temannya sejenak. Tapi setelah itu, ayah dan ibu akan mengajak si anak pergi ke suatu tempat yang diinginkan sang anak.
Baca juga: Kata Psikolog Soal Trauma pada Anak Akibat Mengalami Kekerasan
"Jangan dipaksa anak harus ikut. Apalagi kalau memang memungkinkan untuk anak tidak ikut, ya bolehkan saja tidak ikut. Atau kalau anak terpaksa harus ikut, jangan lupa bawakan sesuatu yang bisa bikin dia menikmati waktunya agar tidak bosan," kata Anas yang juga praktik di Klinik Petak Pintar Mampang ini.
Memberi pengertian pada anak juga penting dilakukan. Ketika ada acara keluarga misalnya, Ibu bisa berkata bahwa menjaga silaturahim dengan kerabat itu penting. Sehingga, boleh terjadi tawar menawar di mana anak ikut acara kumpul keluarga setidaknya dua kali setahun. Tapi, di lain hari anak bisa mengajak orangtuanya pergi ke tempat yang ia inginkan dan memang memungkinkan.
"Kalau diajak ngomong anak punya toleransi dan ngerti juga kok. Sama aja kayak kita ajak anak ke acara keagamaan. Perkenalkan dulu pakai limit dia, 15 menit anteng duduk terus, setelah itu boleh main di halaman. Terus di kesempatan berikutnya limit waktunya dinaikkan," kata Anas.
"Jadi sama anak yang penting itu dialog, ada transisi perubahan di mana kita kasih tahu di tempat yang akan dikunjungi itu ada ini ini ini. Ibaratnya ada briefing dulu untuk anak dan jangan lupa naikkan time limit dia untuk meregulasi dirinya," tambah Anas.
Soal regulasi diri, Anas mengatakan di usia 12 tahun umumnya anak sudah bisa mulai melakukannya. Termasuk pula ketika bosan, anak bisa lebih mengelola rasa bosannya dan tidak lagi ngambek atau menangis seperti yang dilakukan sebelumnya, sebagai cara menunjukkan ekspresi kebosanan.
Baca juga: Wajarkah Jika Anak Gampang Merasa Bosan? (rdn/vit)










































