Selasa, 21 Feb 2017 16:32 WIB

Cerita Julia tentang Bola Mata Palsunya

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Julia/ Foto: Radian Nyi S Julia/ Foto: Radian Nyi S
Jakarta - Siti Julia (15) didiagnosis retinoblastoma atau kanker bola mata saat berusia 4 tahun. Kini, dia sudah sembuh meskipun harus memakai mata palsu di kelopak mata kanan sejak 1 Februari 2012.

Berbagai hal pun dirasakan Julia ketika ia mengenakan mata palsu. Pertama kali menggunakan, mata palsu Julia copot tepatnya saat ia sedang ruku' ketika salat.

"Pas di rumah, lagi salat, ruku' tahu-tahu nggelondong aja mata palsunya. Kok aneh ya copot, aku juga kaget. Nggak terasa apa-apa tahu-tahu gelinding aja matanya," kata Julia sembari tertawa, saat ditemui di Gedung Direktorat P2PTM Kemenkes RI, Jl Percetakan Negara, Jakarta, Senin (20/2/2017).

"Kataku itu apa, eh mata aku ya. Ya sudah aku ambil, cuci, terus pasang lagi. Aku juga tanya ke papa kok mata aku bisa copot ya. Padahal pas di rumah sakit, aku disuruh loncat-loncat mata palsunya nggak copot. Ini di rumah kok malah copot," tambah Julia.

Saat ini, Julia duduk di kelas 2 di MTS Madrasah Khairunnas, Purwakarta. Teman-teman Julia tidak tahu jika Julia mengidap kanker mata. Tapi, si teman hanya menyadari ada yang berbeda dengan mata Julia meskipun si teman tak tahu Julia memakai mata palsu.

Baca juga: Kata Dokter Soal Pemberian Herba Saat Anak Jalani Terapi Kanker

Kadang kala, ada teman yang memang belum tahu dan bertanya pada Julia. Dia menyuruh Julia mengedipkan mata dan saat itulah Julia merasa terpojok. Dia pun menahan diri apakah akan mengedipkan mata palsunya atau tidak.

"Aku tanya emang kenapa kok disuruh ngedip. Kata teman ya ngedip aja coba, aku bilang aja 'nggak ah' terus aku langsung lari. Terus ada juga yang nanya kenapa mata kanan aku diam aja. Aku bilang 'nggak tahu deh'. Aku memang suka ngalihin pembicaraan soal itu," kata anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Namun, ketika sudah amat terpojok, tak jarang Julia menjawab jujur jika dia memang tidak bisa berkedip. Jika seperti itu, Julia bertanya lantas apa maunya si teman. Nah, saat itulah si teman diam.

Dalam menghadapi temannya yang suka iseng seperti itu, Julia mengaku mencoba bersabar. Menurut dia, biarlah orang mau berkata apapun, yang penting dia tidak minder. Julia berpikir positif mungkin si teman tidak mengerti dengan apa yang dialami Julia.

"Justru itu membuat Julia makin semangat karena Julia mau nunujukkan ke teman-teman bahwa Julia bisa menjalani ini semua," kata Julia.

Sehari-hari, biasanya Julia membersihkan mata palsunya dua kali, terutama ketika ada kotoran mata. Setahun sekali, mata palsu Julia pun mesti dibantu. Untuk membeli mata palsu ini, Julia dibantu oleh Yayasan Anyo Indonesia.

Baca juga: Bisa Merusak Mata, Dokter Ingatkan Agar Anak-anak Tak Main Alat Penunjuk Laser

(rdn/vit)
News Feed