Jakarta -
Tidak ada kata terlalu awal bagi orang tua untuk mendidik anak. Pakar mengatakan salah satu kemampuan yang perlu dimiliki anak adalah entrepreneurship.
Ratih Zulhaqqi dari RaQQi - Human Development & Learning Centre mengatakan skill entrepreneurship dibutuhkan agar anak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Dengan pendidikan yang tepat, kemampuan ini bisa bermanfaat hingga anak dewasa.
"Nggak gampang memang membentuk sifat entrepreneurship. Tapi kalau ditanamkan sejak kecil, kalau pola asuhnya bisa dijalankan, anak akan selalu berusaha mencari jalan keluar atas masalahnya sendiri," tutur Ratih, dalam acara Kompakers Depok x Medina, di Resto Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk, Jl Margonda Raya, Depok.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di bagian pertama sudah disebutkan beberapa sifat yang bisa dilatih untuk mengembangkan skill entrepreneurship. Simak bagian keduanya ya:
1. Percaya diri
Foto: ilustrasi/thinkstock
|
Anak dengan mental yang kuat harus memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Nah, peran orang tua di sini adalah menumbuhkan rasa percaya diri pada anak, dengan memberikannya kepercayaan mengambil keputusan.
"Misalnya pakai baju apa untuk pergi atau sepatu warna apa. Biarkan anak membuat keputusan untuk dirinya sendiri, ini yang akan melatihnya percaya diri," tuturnya.
2. Empati
Foto: ilustrasi/thinkstock
|
Empati bukan sifat bawaan lahir. Ratih mengatakan empati harus dilatih kepada anak dengan cara dicontohkan oleh orang tua.
"Contoh paling baik adalah dengan mengajarkan anak berbagai. Orang tua mencontohkan sembari memberi alasan, 'tetangga sebelah sedang sakit dan orang tuanya sedang pergi, yuk kita bagi makanan kita,' seperti itu," paparnya.
3. Optimis
Foto: iStock
|
Sifat optimis penting dimiliki karena melatih anak untuk melihat sisi positif dari segala sesuatu. Dengan begitu, anak tidak tumbuh menjadi seseorang yang gemar mengeluh.
"Kalau gagal, coba lagi, Gagal, coba lagi. Tapi harus diingat, yang menentukan target suatu pencapaian itu anaknya ya, bukan orang tuanya," tandasnya.
4. Berbagi
Foto: iStock
|
Kemampuan untuk bisa berbagi kepada orang lain berhubungan erat dengan kematangan emosional. Berbagi juga mengajarkan anak untuk peduli dengan cara yang tepat.
"Misalnya dengan mencontohkan berbagi makanan kepada pengemis. Itu lebih baik daripada memberi uang, karena memberi makanan akan lebih bermanfaat," tutupnya.
Anak dengan mental yang kuat harus memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Nah, peran orang tua di sini adalah menumbuhkan rasa percaya diri pada anak, dengan memberikannya kepercayaan mengambil keputusan.
"Misalnya pakai baju apa untuk pergi atau sepatu warna apa. Biarkan anak membuat keputusan untuk dirinya sendiri, ini yang akan melatihnya percaya diri," tuturnya.
Empati bukan sifat bawaan lahir. Ratih mengatakan empati harus dilatih kepada anak dengan cara dicontohkan oleh orang tua.
"Contoh paling baik adalah dengan mengajarkan anak berbagai. Orang tua mencontohkan sembari memberi alasan, 'tetangga sebelah sedang sakit dan orang tuanya sedang pergi, yuk kita bagi makanan kita,' seperti itu," paparnya.
Sifat optimis penting dimiliki karena melatih anak untuk melihat sisi positif dari segala sesuatu. Dengan begitu, anak tidak tumbuh menjadi seseorang yang gemar mengeluh.
"Kalau gagal, coba lagi, Gagal, coba lagi. Tapi harus diingat, yang menentukan target suatu pencapaian itu anaknya ya, bukan orang tuanya," tandasnya.
Kemampuan untuk bisa berbagi kepada orang lain berhubungan erat dengan kematangan emosional. Berbagi juga mengajarkan anak untuk peduli dengan cara yang tepat.
"Misalnya dengan mencontohkan berbagi makanan kepada pengemis. Itu lebih baik daripada memberi uang, karena memberi makanan akan lebih bermanfaat," tutupnya.
(mrs/vit)