Rabu, 26 Apr 2017 15:36 WIB

Ini Akibat Sering Beri Permen untuk Tenangkan Anak yang Menangis

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: ilustrasi/thinkstock Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Salah satu cara ampuh menenangkan anak yang menangis yakni memberi mereka permen, es krim, atau sesuatu yang manis yang notabene disukai anak. Jika Ayah dan Ibu kerap melakukan itu, ada risiko yang bisa terjadi lho.

Menurut studi yang dilakukan di Norwegia baru-baru ini, ketika makan permen, cokelat, atau es krim untuk mengatasi suasana hati yang tidak baik, secara tidak sadar seseorang sudah memberi reward untuk otak. Nah, ketika hal ini sering dilakukan, asupan kalori akan lebih banyak bahkan ketika seseorang tidak membutuhkannya.

"Hal ini juga berlaku pada anak-anak. Kebiasaan seperti itu bisa memicu emotional eating yang kita ketahui bisa berpengaruh pada risiko obesitas kelak. Jika kita tahu bagaimana terbangunnya emotional eating pada anak-anak, setidaknya orang tua bisa melakukan pencegahan," tutur salah satu peneliti, Dr Silje Steinsbekk yang juga associate professor of psychology di Norwegian University of Science.

Dalam studinya, Steinsbekk dan tim mengamati kebiasaan makan 801 anak usia 4 tahun. Kemudian, si anak diamati kembali saat usianya 8 dan 10 tahun. Diketahui, anak yang orang tuanya sering menjadikan makanan sebagai penenang si kecil, lebih sering mengalami emotional eating di kemudian hari.

Baca juga: Lucu! Bayi Ini Langsung Berhenti Menangis Saat Cium Baju Ibunya

Sebaliknya, ketika anak jarang diberi makanan agar dia tenang, perilaku emotional eating lebih sedikit dialami. Steinsbekk mengingatkan emotional eating bukan diturunkan, tetapi dipengaruhi lingkungan. Sehingga, anak juga bisa mengembangkan emotional eating ketika melihat ayah dan ibunya melakukan hal itu.

"Kami sarankan lebih baik peluk anak ketika dia menangis atau sedih, ketimbang memberinya permen, cokelat, atau es krim. Cara ini mungkin berhasil tapi akan ada efek negatif di kemudian hari," kata Steinsbekk, dikutip dari Essential Kids.

Saat anak menangis, Steinsbekk lebih menyarankan Anda memangku anak, kemudian bicara padanya. Tenangkan anak dengan mengajaknya bicara dari hati ke hati dan hindari memberi makanan sebagai pelega suasana hati anak yang sedang tidak baik.

Kepada detikHealth beberapa waktu lalu, psikolog anak dari Tiga Generasi Anastasia Satriyo M.Psi., Psikolog mengatakan jika anak ngambek, ajak ia bicara. Jangan sampai menjadi pengalaman berulang jika anak ngambek, keinginannya akan dituruti. Hal terpenting, orang tua membicarakan apa penyebab anak boleh atau tidak boleh melakukan sesuatu.

"Kalau anak belum bisa diajak ngomong, biarkan dia sebentar. Lalu katakan ke anak nggak masalah kalau dia nangis atau kesal seperti itu. Tapi nanti ayah dan ibu akan mengajak dia bicara. Pesan yang disampein ke anak adalah kita sayang ke mereka, tapi kita nggak akan ngasih sesuatu yang memang nggak boleh. Patut diingat juga bahwa nggak semua sesuatu yang dia mau bisa kita penuhi. Karena pada prinsipnya ketika kita membelikan sesuatu ke anak, itu harus ada tujuannya, ada ceritanya. Jadi anak punya rasa memiliki terhadap benda itu," papar Anas.

Baca juga: Anak Mudah Rewel? Mungkin Kurang Makan Buah dan Sayur

(rdn/vit)