Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) sekitar 155 juta anak usia lima tahun ke bawah saat ini diperkirakan tubuhnya pendek di bawah rata-rata.
Baca juga: Stunting Tak Cuma Soal Tubuh Pendek, Ini Dampak Lainnya
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasilnya diketahui bahwa pada kelompok anak yang diberikan telur prevalensi stuntingnya berkurang hingga 47 persen dibandingkan anak yang tidak mendapat telur. Padahal ketika studi baru dimulai kelompok anak yang mendapat telur tersebut sebetulnya lebih pendek dibandingkan anak-anak lain.
"Kami terkejut dengan betapa efektifnya intervensi ini. Dan yang lebih bagusnya telur masih relatif murah dan mudah diakses oleh populasi yang rentan terhadap ancaman kelaparan serta defisiensi nutrisi," kata pemimpin studi Lora Iannotti seperti dikutip dari BBC, Kamis (8/6/2017).
Menurut Profesor Mary Fewtrell dari Royal College of Paediatrics and Child Health telur mungkin tidak populer di beberapa tempat karena kekhawatiran orang tua terhadap masalah alergi. Namun demikian tidak mengubah fakta bahwa telur termasuk pangan bernutrisi tinggi yang mudah didapat.
"Telur adalah makanan anak bernutrisi tinggi yang bisa dikenalkan sebagai ragam diet begitu ibu ingin mengenalkan makanan pendamping. Tapi jangan sebelum anak berusia empat bulan," kata Prof Mary.
Baca juga: Benarkah Makan Kuning Telur Bisa Bikin Kolesterol Naik? (fds/up)











































