Pakar epidemologi kedokteran Wieslaw Jedrychowski dan rekannya mengamati 468 orang bayi yang lahir dari ibu bukan perokok. Anak-anak tersebut diberi tes sebanyak lima kali dengan interval yang teratur sejak bayi sampai usia prasekolah.
Hasilnya, anak-anak prasekolah yang diberi ASI mendapat skor IQ lebih tinggi daripada anak yang diberi susu botol.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian ini menegaskan pengamatan yang pernah dilaporkan 70 tahun lalu oleh Carolyn Hoefer dan Mattie Hardy di Journal of American Medical Association, serta banyak penelitian setelahnya.
Penelitian ini memberikan dasar ilmiah bagi Organisasi Kesehatan Dunia untuk merekomendasikan agar semua bayi mendapat ASI eksklusif selama enam bulan pertama sejak dilahirkan.
"Bayi yang disusui dari payudara ibu tidak hanya menerima makanan, tetapi terlibat dialog biologis yang dinamis secara dua arah. Ini adalah ikatan fisik, psikologis, dan interaksi antara bayi dengan ibunya selama menyusui dan memelihara perkembangan kemampuan mental bayi," kata Tonse Raju, dokter anak dan neonatalogist (ahli bayi) di Institut Nasional Anak Kesehatan dan Pembangunan Manusia yang tidak ikut dalam penelitian.
"Saya percaya efek IQ ini dapat dijelaskan sebagian oleh interaksi yang dinamis antara ibu dengan bayi dalam proses menyusui," kata Jedrychowski menyepakati perkataan Raju seperti dikutip dari LiveSCience, Jum'at (18/11/2011).
Selama tahun pertama kehidupan, berat otak bayi bertambah hampir dua kali lipat. Sebagian besar pertambahan itu berasal dari pertumbuhan materi putih. Kecepatan transmisi impuls listrik pada serat saraf yang diselubingi lapisan mielin 50 kali lebih cepat daripada yang tidak terselubung.
Penelitian ini memberikan wawasan tentang mengapa pembentukan selubung mielin terjadi setelah kelahiran dan tidak ketika masa kanak-kanak atau remaja. Pengalaman anak usia dini mempengaruhi pembentukan mielin dan membantu perkembangan otak untuk beradaptasi terhadap lingkungannya.
(ir/ir)











































