Asuh Anak dengan Bercanda Bantu Pengembangan Mental dan Sosial

Asuh Anak dengan Bercanda Bantu Pengembangan Mental dan Sosial

- detikHealth
Rabu, 30 Nov 2011 12:45 WIB
Asuh Anak dengan Bercanda Bantu Pengembangan Mental dan Sosial
Jakarta - Meningkatkan perkembangan anak bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Penelitian baru-baru ini menemukan bahwa orangtua yang bercanda dan bermain dengan balitanya akan memberikan awal perkembangan kehidupan yang baik bagi anak-anaknya.

Para peneliti di Universitas Stirling, Skotlandia telah melihat bagaimana orangtua berinteraksi dengan anak-anaknya yang berusia 15 sampai 24 bulan dan menemukan bahwa bercanda dapat membantu mengembangkan keterampilan hidup anak-anak.

"Orang tua, pengasuh dan pendidik tidak boleh meremehkan pentingnya berinteraksi dengan anak-anak sejak dini lewat bercanda dan permainan pura-pura. Menghabiskan waktu melakukan hal yang menyenangkan bersama anak-anak akan membantu mereka belajar bagaimana melakukannya sendiri dan mengajarkan keterampilan yang penting pada masa kanak-kanak dan seterusnya," kata peneliti, Dr. Elena Hoicka dari Universitas Stirling, Skotlandia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Skotlandia, pemerintah telah menekankan pentingnya bermain dan bersenang-senang dengan anak-anak. Lewat kampanye 'Bermain, Bicara, Baca' yang dicanangkan sejak awal tahun ini, Pemerintah Skotlandia mendorong orangtua dan wali untuk melakukan hal itu.

Pesan yang hendak disampaikan adalah interaksi sederhana dengan anak di bawah 3 tahun dapat membantu membangun ikatan orang tua dengan anaknya. Selain itu, interaksi tersebut akan memberikan keterampilan sosial yang penting, motivasi dan kemampuan belajar seumur hidup yang membuat lebih mudah.

"Bercanda adalah melakukan hal yang salah dengan sengaja. Sebaliknya, berpura-pura adalah melakukan sesuatu yang salah dan dibayangkan untuk menjadi benar. Sebagai contoh, orangtua bisa menggunakan spons sebagai bebek ketika berpura-pura, tetapi menggunakan kucing sebagai bebek ketika bercanda," imbuh Dr Hockia.

Dr Hockia melakukan penelitian untuk melihat apakah orangtua menggunakan isyarat yang berbeda untuk membantu balita mengerti dan membedakan antara bercanda dan berpura-pura. Temuan mengungkapkan bahwa orangtua menggunakan berbagai gaya bahasa, suara dan isyarat non-verbal.

Ketika berpura-pura, orangtua berbicara pelan dan keras serta mengulang-ulangi tindakannya. Orangtua cenderung menggunakan isyarat ketika melakukan lelucon dengan menunjukkan ketidakpercayaan melalui bahasa dan menggunakan nada suara yang lebih bersemangat.

"Meskipun tidak semua orangtua merasa percaya diri akan kemampuan alaminya, penelitian ini menunjukkan bahwa melakukan upaya untuk berinteraksi dengan cara ini kepada balita adalah penting," pungkas Dr. Hoicka seepti dilansir DailyRecord, Rabu (30/11/2011).



(ir/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads