Hal ini terungkap dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti University of Michigan, Ann Arbor. Menurut peneliti, temuan ini dapat menyoroti interaksi kompleks antara hormon, perilaku dan persepsi terhadap situasi.
"Hormon dan perilaku terhubung dalam cara yang dinamis dan kompleks, lebih kompleks dari yang kita pikirkan. Hormon dapat berubah tergantung konteks dan perilaku, persepsi kita bahkan dapat mempengaruhi endoktrin. Jadi situasi dapat menimbulkan pola yang berbeda dari respons hormonal tergantung bagaimana kita berperilaku," ujar Sari van Anders, neuroendocrinologis dari University of Michigan, Ann Arbor, seperti dilansir Livescience, Rabu (14/12/2011).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam penelitian tersebut peneliti membuat percobaan menggunakan boneka bayi interaktif yang sering digunakan untuk mengajar siswa SMA untuk bertanggung jawab menjadi orangtua. Boneka tersebut bisa membuat suara, termasuk menangis dengan keras. Satu-satunya cara untuk menghentikan tangis adalah dengan menggesekkan gelang sensor pada boneka dan menghiburnya, persis seperti bayi sungguhan.
55 partisipan diminta untuk mendengarkan tangis bayi dan mencoba untuk menenangkannya. Namun sebelum percobaan dimulai, partisipan diminta untuk memberikan air liur untuk pengukuran testosteron. Mereka juga diminta untuk menjawab pertanyaan tentang suasana hati.
Setelah itu, partisipan diminta kembali menyerahkan sampel liur untuk mengukur perubahan testosteron. Hasilnya, pria yang berhasil menenangkan bayi mengalami penurunan testosteron sebesar 10 persen, sedangkan yang hanya mendengar tangis tapi tidak bisa menanggapi justru mengalami peningkatan testosteron sebesar 20 persen.
"Mendengar tangis bayi yang semakin kesal, ditambah dengan teriakan melengking, tanpa mampu memberikan respons mungkin menjadi isyarat bahaya atau tanggap darurat fisiologis untuk perlindungan bayi. Itu bisa memacu banjir testosteron, sebagai teori telah menghubungkan testosteron lebih tinggi karena beberapa jenis perilaku," jelas Sari van Anders.
Menurut van Anders, temuan ini dapat membantu memperluas ide-ide tentang pengasuhan anak dan persepsi yang disederhanakan tentang testosteron dan orangtua.
"Testosteron tinggi dapat dikaitkan dengan aspek-aspek tertentu dari orang tua atau tanggapan terkait bayi," tutup van Anders.











































