Pada bayi, kolik ditandai dengan tangis berlebihan yang sering dikaitkan degnan masalah pencernaan. Gangguan ini merupakan salah satu pemicu sindrom goncangan pada bayi (shaken baby syndrome), yang sering berujung dengan kematian, kerusakan otak serta kecacatan serius.
Untuk mengetahui hubungannya dengan riwayat migrain pada ibu, para peneliti dari University of California melakukan pengamatan terhadap 154 ibu yang memiliki bayi usai 2 bulan. Pada usia tersebut, serangan kolik paling sering terjadi pada bayi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena migrain berhubungan dengan genetik, maka kolik pada bayi juga bisa menjadi pertanda bakal kena migrain di kemudian hari," kata Dr Amy Gelfand, neurolog anak dari Univeristy of California seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (21/2/2012).
Dr Gelfand menjelaskan, bayi yang sering mengalami kolik juga lebih rentan mengalami migrain saat tumbuh dewasa. Serangan kolik yang sering dialami bayi bisa menjadi semacam pertanda adanya gejala awal yang akan berkembang menjadi faktor risiko migrain.
Diyakini, bayi yang sering kolik lebih sensitif terhadap rangsang dari lingkungan seperti halnya para penderita migrain. Bayi-bayi ini juga mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru setelah dilahirkan, yang lebih terang dan bising daripada di dalam rahim.
Hasil penelitian ini akan dipresentasikan dalam pertemuan tahunan American Academy of Neurology ke-64 di New Orleans, April mendatang.











































