Temuan ini mendukung hipotesis bahwa bakteri diperlukan untuk membentuk sistem kekebalan tubuh yang sehat. Gaya hidup yang takut dan menghindari bakteri justru semakin meningkatkan risiko asma, alergi dan penyakit autoimun lainnya.
Sistem kekebalan tubuh merupakan garda terdepan dalam pertahanan terhadap kuman di sekitar tubuh. Kuman yang jahat dapat menyebabkan keracunan makanan, pilek dan berbagai penyakit lainnya. Namun sebagian besar kuman ini ternyata tidak berbahaya dan bahkan ada pula yang menyehatkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science, para peneliti membandingkan tikus normal dengan tikus yang dibesarkan di tempat khusus yang bebas kuman. Peneliti kemudian mengukur kadar sel darah putih yang disebut sel invariant natural killer T (iNKT) di paru-paru dan usus kedua tikus.
Sel-sel iNKT melepaskan protein yang menyebabkan peradangan. Peradangan berperan penting dalam penyakit autoimun. Sel-sel iNKT diketahui aktif dalam paru-paru penderita penyakit asma dan dalam perut penderita ulcerative colitis atau radang usus besar.
"Di antara kedua tikus, perbedaan yang paling mencolok adalah kerentanan terhadap penyakit autoimun. Tikus yang bebas kuman jauh lebih rentan terserang penyakit dibandingkan tikus yang pernah terpapar kuman," kata peneliti, Dennis Lee Kasper, dokter senior di Brigham and Women's Hospital di Boston seperti dilansir LiveScience (Senin, 26/3/2012).
Ketika terkena bakteri biasa di kemudian hari, tikus bebas kuman bahkan masih memiliki sel iNKT yang berlimpah dalam paru-paru dan ususnya. Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan sistem kekebalan tubuh pada periode awal kehidupan sangat penting dalam pembentukan sistem kekebalan tubuh yang tepat.
"Paparan terhadap bakteri di masa bayi penting untuk melindungi tubuh dari peradangan dan sel INKT. Tidak hanya untuk penyakit-penyakit yang disebutkan tadi, bisa jadi paparan tersebut juga dapat melindung anak dari diabetes tipe 1," kata Axel Kornerup Hansen, profesor di Universitas Kopenhagen di Denmark yang tidak terlibat dalam penelitian.











































