Diare masih menjadi penyebab kematian pada anak-anak di seluruh dunia. Menurut data WHO, sepanjang tahun 2004 sudah terjadi 527.000 kematian balita akibat diare. Penyakit ini memang selalu berhasil diatasi, tetapi tidak pernah berhasil diselesaikan sampai tuntas. Penyebabnya, 85% diare yang diderita bayi adalah diare akut.
Diare juga menjadi salah satu dari 5 besar penyebab kematian balita di dunia, terutama du negara berkembang. Di Indonesia, rata-rata sebanyak 7,8 dari 1000 balita meninggal karena diare setiap tahun.
"Seseorang dikatakan mengidap diare jika mengalami buang air besar cair dengan frekuensi lebih sering dari biasanya selama 3 hari lebih. Dikatakan diare akut jika berlangsung sampai 7 hari, diare berlanjut jika dialami selama 7 sampai kurang dari 14 hari dan apabila lebih dari 14 hari sudah disebut diare persisten," kata dr Badriul Hegar, PhD. SpA(K), dokter anak di RSCM dan ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam acara Seminar Media mengenai Diare dan Difteri di kantor IDAI, Jakarta, Rabu (18/4/2012).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bayi berusia 1 bulan sering mengalami diare 8-10 kali sehari. Hal ini wajar karena enzim laktase dalam usus bayi belum berkembang baik sehingga laktosa dalam susu tidak dapat dipecah dan justru menarik cairan di usus. Akibatnya terjadi diare," kata dr Badriul.
Menurut dr Badriul, gejala ini akan membaik dengan sendirinya seiring pertambahan usia bayi. Diare pada bayi perlu diwaspadai jika bayi mengalami dehidrasi sedang dan berat.
Tanda-tanda dehidrasi sedang adalah bayi merasa gelisah, matanya cekung, air mata dan mutnya kering dan sangat haus atau banyak minum.
Sedangkan tanda-tanda dehidrasi berat adalah bayi merasa lesu, lunglai, matanya sangat cekung, mulut sangat kering dan malas atau tidak bisa minum.
(pah/ir)










































