Berbagai kelainan atau cacat genetik bisa menjadi faktor risiko keguguran berulang maupun bayi lahir dalam kondisi sudah meninggal. Kelainan itu biasanya terdapat di mitokondria, salah satu komponen dari Deoxyribo Nucleic Acid atau disingkat DNA.
Di seluruh dunia, diperkirakan 1 dari 6.500 bayi memiliki kelainan serius pada mitokondria yang bisa memicu 50 jenis penyakit genetis. Tiap tahun, sekitar 200 bayi di Inggris terlahir dengan kondisi yang sering berujung pada kematian tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun menggabungkan 2 sel telur menjadi 1 untuk kemudian dibuahi oleh sperma yang sama bukan perkara mudah. Secara teknis memang memungkinkan, namun dipastikan akan menuai kontroversi karena berpotensi memicu kecenderungan untuk 'mendesain' bayi sesuai keinginan.
Lisa Jardine dari Human Fertilisation and Embryology Authority (HFEA) di Inggris mengatakan, kontroversi serupa juga terjadi saat pertama kali teknologi In Vitro Fertilization (IVF) diperkenalkan tahun 1978. Meski awalnya ditentang, saat ini teknologi bayi tabung banyak digunakan.
Konsultasi publik untuk melegalkan teknologi penggabungan 2 sel telur saat ini tengah dilakukan di Inggris. Bila berhasil, maka kelak Inggris jadi negara pertama yang melegalkannya karena sampai saat ini teknologi tersebut masih ilegal di negara lain.
"Saya merasa sangat yakin jika kelak kita sudah melakukan modifikasi genetik, kita harus percaya kita bahagia. Sebab ini bukan tentang kita saja. Bukan tentang anak kita, bahkan bukan hanya cucu kita. Ini tentang banyak generasi di bawah kita yang mungkin menanggung konsekuensinya," kata Lisa seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (18/9/2012).
(up/ir)











































