Senin, 17 Des 2012 16:36 WIB

Masih Percaya Mitos, Bayi Baru Lahir di Desa Latompe Sudah Diberi Pisang

- detikHealth
Bidan Rahmi (Foto: detikHealth)
Jakarta - Bayi baru lahir hingga usia 6 bulan seharusnya hanya diberi ASI (Air Susu Ibu) tanpa tambahan makanan lain atau disebut dengan ASI Eksklusif. Tapi di desa Latompe, Muna, Sulawesi Tenggara, masyarakatnya masih kental dengan mitos, sehingga bayi baru lahir pun sudah diberi makanan padat seperti pisang.

Masyarakat di desa Latompe, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, hidup dengan mitos dan percaya bahwa tangisan bayi adalah indikasi lapar. Karenanya, setiap bayi ada bayi menangis orang tua akan memberikan makanan berupa pisang kerik (pisang yang dikerik) meski baru barusia 1 atau 2 hari.

"Kalau di daerah saya, bayi yang baru dilahirkan usia 1 atau 2 hari itu kalau menangis diberi makan pisang ketik. Ibu-ibu berpikir kalau bayi menangis itu berarti lapar, jadi harus diberi makan. Tidak ada ASI Eksklusif disana," tutur Bidan Rahmi, Finalis Srikandi Award 2012 untuk kategori MDGs 4, saat berbincang dengan detikHealth, di sela-sela acara Konferensi Pers 'Srikandi Award 2012' di Balai Kartini, Jakarta, Senin (17/12/2012).

Menurut Bidan Rahmi, memberikan pisang kerik pada bayi baru lahir di Latompe merupakan tradisi yang sudah turun-temurun. Bayi-bayi baru lahir yang menangis selalu dianggap lapar dan pemberian ASI saja dianggap tidak cukup sehingga perlu makanan padat.

Terlebih orang tua akan merasa malu bila tangisan bayinya yang melengking sampai terdengar hingga tetangga, karena masyarakat akan menganggapnya orang tua tidak mampu memberi makan anaknya.

"Suara bayi kan melengking, jadi sampai terdengar sampai di tetangga. Tetangganya ngomong, kenapa anaknya dibiarkan menangis, dibiarkan lapar. Karena orangtuanya malu. Jadi dianggapnya kalau menangis, orang tuanya tidak mampu beri makan," lanjut wanita berusia 37 tahun ini.

Padahal, memberikan makanan padat pada bayi baru lahir sangat besar risikonya, bahkan bisa mengancam nyawa.

"Bahaya memberi pisang pada bayi sangat banyak, bisa menimbulkan kematian karena bisa menyebabkan usus terlipat, sembelit, diare. Bisa tersedak karena bayi itu belum mampu mencerna atau merespons makanan padat, sehingga bisa tersedak dan menimbulkan penyumbatan pada jalan napas. Usus terlipat karena usus bayi belum sanggup mencerna makanan padat sehingga bahaya, bahkan bisa menyebabkan kematian," jelas Rahmi.

Idealnya makanan padat seperti pisang baru boleh diberikan setelah ASI eksklusif selesai, sekitar usia 6atau 7 bulan, sambil ASI terus diberikan sampai umur 2 tahun.

Karena itu, Rahmi berinisiatif memberikan pemahanan pada masyarakat tentang pentingnya ASI eksklusif. Tidak hanya pada ibu-ibu hamil dan menyusui, tetapi juga suaminya dan aparat desa.

Rahmi yang telah bergelut di Muna sejak 1995 paham betul bahwa yang pertama-tama harus menjadi sasaran sosialisasi adalah pada Kepala Desa, aparat desa, tokoh masyarakat, dan para suami.

Menurutnya, jika hanya para ibu yang mengerti pentingnya ASI eksklusif, tetapi suami dan masyarakat merasa hal tersebut adalah ketersesatan, berapa banyak dan berapa lama hujatan harus diterima?

Untuk itu, Rahmi pun bersosialisasi dengan mendatangi rumah satu persatu dengan memberikan informasi yang benar demi menepis mitos yang menyesatkan. Ia juga rutin mengadakan pertemuan untuk ibu dan calon ibu, suami dan aparat desa.

"Sampai sekarang masih ada (yang memberikan pisang pada bayi) tapi setelah ada program ini mereka mulai sadar dan memberikan ASI eksklusif, dan pisang kerik itu tidak terlalu berguna tetapi malah mengandung bahaya," tutup Rahmi.


(mer/vit)