Tercatat dalam situs change.org tempat petisi ini dibuat, pendukung gerakan Stop Daffodil Study telah mencapai 1.561 orang. Padahal, petisi ini baru dibuat untuk pertama kalinya pada tanggal 12 Desember 2012 alias belum genap sepekan.
"Kita sih tidak ada target karena awalnya petisi memang untuk awareness saja," kata Nia Umar dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) dan Ikatan Konselor Menyusui Indonesia (IKMI) yang menggagas petisi ini saat dihubungi detikHealth, Selasa (18/12/2012).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika karena sesuatu dan lain hal ibu-ibu tidak bisa memberikan ASI untuk bayinya, maka harus dicarikan solusi antara lain melalui konseling karena tidak sedikit yang penyebabnya cuma masalah ketidaktahuan. Yang jelas, bayi-bayi itu tidak seharusnya dipakai untuk penelitian.
AIMI juga telah melayangkan surat terbuka kepada tim peneliti yang tembusannya ditujukan ke berbagai pihak termasuk Menteri Kesehatan.
Melalui dr Badriul Hegar, SpA sebagai ketua, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang logonya tercantum dalam file presentasi Daffodil Study telah membantah keterlibatannya dalam penelitian tersebut.
"IDAI sebagai organisasi profesi tidak ikut dalam penelitian tersebut," tulis dr Badriul Hegar, SpA selaku Ketua IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) seperti diberitakan detikHealth sebelumnya.
Daffodil Study merupakan penelitian mengenai susu formula yang memiliki judul lengkap 'Pengaruh Susu Formula yang Mengandung Lemak Susu Sapi yang Diperkaya dengan Lemak Campuran dan Tambahan Fosfolipid Terhadap Durasi dan Gejala Infeksi Saluran Pencernaan dan Pernapasan pada Bayi'.
Kabar yang beredar, Daffodil Study melibatkan bayi-bayi dari 4 kecamatan di DKI Jakarta yang berusia kurang dari 4 bulan. Kriteria lainnya adalah bayi-bayi tersebut tidak mendapatkan ASI dari ibunya karena berbagai sebab.
(up/vit)











































