Data cukup mengejutkan didapat bahwa lebih dari 1,7 juta embrio yang disiapkan untuk membantu perempuan agar bisa hamil ini telah dibuang. Jumlah tersebut merupakan akumulasi sejak 21 tahun lalu.
Hasil tersebut dikumpulkan oleh regulator industri kesuburan, the Human Fertilisation and Embryology Authority (HFEA) yang telah mencatat proses IVF sejak tahun 1991.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Angka-angka yang dikeluarkan oleh Health Minister Lord Howe menunjukkan 3.546.818 embrio manusia telah diciptakan sejak Agustus 1991. Dari jumlah tersebut hanya 235.480 yang terbukti berhasil berkembang menjadi kehamilan, atau seperenam dari total 1.388.443 embrio yang ditanamkan ke rahim.
Hasilnya sekitar 93 persen dari semua embrio yang diciptakan tidak pernah menghasilkan kehamilan. Diketahui sebanyak 839.325 embrio disimpan untuk digunakan di masa depan, 2.071 embrio disimpan untuk disumbangkan ke orang lain dan 5.876 disisihkan untuk penelitian ilmiah.
Sementara itu sisanya sekitar 1.691.090 embrio dibuang karena tidak terpakai dan lebih dari 23.480 embrio dibuang karena telah melewati batas waktu penyimpanan, seperti dikutip dari MedIndia, Kamis (3/1/2013).
Keberhasilan dari program bayi tabung ini memang tidak bisa 100 persen, hal ini tergantung dari berapa usia calon ibu. Jika di bawah 30 tahun peluang keberhasilan mencapai 50 persen, usia 30-35 tahun peluangnya 35 persen, usia 40 tahun peluangnya sekitar 10-15 persen, sedangkan di atas 40 tahun peluangnya tinggal 8 persen.
Kegagalan biasanya terjadi pada proses penanaman embrio di rahim, kondisi ini sangat tergantung pada kemampuan rahim menangkap embrio. Terkadang komunikasi antara embrio dengan rahim tidak berjalan mulus karena adanya infeksi atau penyakit lain.
Selain faktor fisiologis, kondisi psikologis calon ibu juga perlu diperhatikan. Ini karena proses bayi tabung membutuhkan waktu lama dan si ibu harus minum obat-obatan hormon atau disuntik yang membuat tubuhnya tidak nyaman.
(ver/vit)











































