Bahkan bayi dengan usia semuda itu telah terpikir untuk membahayakan orang yang tidak disukai atau memiliki kegemaran berbeda dengannya. Untuk itu, menurut peneliti dari University of British Columbia, hal ini tergantung pada kesamaan kegemaran si bayi dengan orang atau bayi lain yang disukai atau dibencinya.
Kondisi ini tak hanya terjadi pada bayi-bayi tertentu saja tapi peneliti berhasil memastikannya dengan mengamati bahwa hampir keseluruhan dari 112 bayi yang dilibatkan dalam studi ini memperlihatkan perilaku serupa.
"Fakta bahwa bayi juga memperlihatkan perilaku bias sosial, bahkan sebelum mereka bisa berbicara, menunjukkan bahwa perilaku bias bukanlah semata hasil dari pengalaman interaksi dengan dunia luar saja tapi telah menjadi aspek mendasar dari evolusi makhluk sosial seperti manusia," ungkap ketua tim peneliti Kiley Hamlin seperti dilansir nydailynews, Senin (18/3/2013).
"Bahkan sejak kecil manusia telah sibuk menilai lingkungan di sekitar mereka, termasuk orang-orang di dalamnya serta mencoba menentukan siapa diantara orang-orang di lingkungan itu yang bisa menjadi teman dan musuh mereka," tambahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebaliknya, jika si boneka terlihat memegang makanan yang tidak mereka sukai atau berbeda dengan makanan yang mereka sukai, partisipan bayi dalam studi ini menganggap boneka itu 'musuhnya'.
Kemudian peneliti mempersiapkan boneka lain (boneka kedua) yang difungsikan untuk membantu, merusak atau bersikap netral terhadap boneka pertama. Ternyata partisipan cenderung lebih memilih boneka kedua yang merusak boneka pertama yang memiliki selera berbeda dengannya.
"Salah seorang partisipan bahkan mencium boneka yang ia sukai," timpal Hamlin.
Jadi meski telah lama diketahui bahwa seseorang cenderung memilih orang lain yang memiliki kesamaan karakter dengan dirinya, studi ini memastikan tampaknya hal ini adalah preferensi bawaan dari si manusia itu sendiri.
(/)











































