Peneliti dari UB School of Medicine and Biomedical Sciences menemukan bahwa ketika tikus diberikan diet makanan yang tinggi karbohidrat di awal kehidupannya, tikus-tikus tersebut akan kesulitan mengatasi kelebihan berat badan kelak di kemudian hari.
"Ini adalah studi pertama yang mempelajari bagaiamana pola diet di awal kehidupan, berpengaruh besar dalam sulitnya memerangi obesitas di kehidupan dewasa," terang Dr. Mulchand S. Patel, PhD, seorang ahli biomedis yang memimpin penelitian tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibatnya, metabolisme tubuh akan menyesuaikan keadaan tersebut dan pada gilirannya dapat meningkatkan risiko obesitas di kemudian hari.
Peneliti melakukan studi dengan memberi makan sekelompok tikus yang berusia 3 minggu dengan susu formula yang rendah kalori. Kemudian setelah beberapa minggu, peneliti membagi tikus secara acak menjadi dua kelompok. Kelompok pertama tetap diberikan susu formula rendah kalori, sedangkan peneliti mengubah diet pada kelompok kedua yang diberikan susu formula dengan kandungan karbohidrat dan kalori yang lebih tinggi.
Peneliti menemukan bahwa dalam metabolisme tubuh tikus yang diberi makan susu formula tinggi karbohidrat, ternyata telah mengembangkan hiperinsulinemia, prekursor untuk obesitas dan diabetes tipe 2.
"Sayangnya, kami menemukan bahwa metabolisme yang telah mengarah ke obesitas tersebut tidak dapat diprogram ulang, sehingga anak mungkin akan mengalami kesulitan untuk mengatasi obesitas di kemudian hari," kata Patel.
Itulah alasan mengapa orang tua harus memperhatikan saran dari American Academy of Pediatrics untuk tidak memberikan anak makanan padat di luar ASI sebelum usianya mencapai 4 sampai 6 bulan. Jangan memberikan makanan padat pertama yang tinggi karbohidrat, imbangi juga dengan protein yang baik untuk perkembangannya.
Penelitian ini diterbitkan dalam American Journal of Physiology: Endocrinology and Metabolism, seperti ditulis Medical Daily, Kamis (21/3/2013).
(/)











































