Dari hasil review terhadap beberapa studi tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa jumlah zat besi dalam darah bayi yang baru lahir akan lebih banyak jika pusarnya terjepit beberapa menit kemudian. Demikian dilansir Daily Mail, Jumat (12/7/2013).
Justru jika tali pusar dipotong terlalu cepat maka si bayi akan berisiko mengalami kekurangan zat besi karena jumlah darah yang seharusnya 'ditransfer' dari sang ibu ke anaknya lewat plasenta berkurang. Hal ini tentu mempengaruhi cadangan zat besi si anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan ketika pemotongan tali pusarnya tertunda, bayi-bayi ini dilaporkan memiliki kadar hemoglobin yang lebih tinggi satu-dua hari setelah dilahirkan serta berpeluang lebih kecil mengalami kekurangan zat besi tiga sampai enam bulan pasca persalinan.
Berat lahir mereka pun juga lebih tinggi dibandingkan bayi yang tali pusarnya langsung dipotong setelah dilahirkan.
Menyikapi studi ini, WHO pun kini telah merekomendasikan penundaan penjepitan tali pusar (cord clamping) dalam kurun waktu 1-3 menit setelah persalinan.
Namun pakar lain Dr. Philippa Middleton dari Adelaide University menanggapi studi ini dengan mengatakan, "Disamping semakin banyak ditemukannya bukti bahwa penundaan pemotongan tali pusar meningkatkan konsentrasi hemoglobin serta cadangan zat besi pada bayi, sebuah pendekatan liberal terkait prosedur ini juga tampaknya perlu diwaspadai."
Menurutnya, memotong tali pusar beberapa saat setelah bayi dilahirkan juga meningkatkan jumlah bayi yang membutuhkan perawatan untuk penyakit kuning, meskipun diakui Dr. Middleton risikonya kecil.
"Mungkin penundaan pemotongan tali pusar ini terbukti dapat meningkatkan cadangan zat besi dan lebih bermanfaat bagi bayi-bayi yang berisiko mengalami anemia parah saja," tutupnya.
Studi ini telah dipublikasikan dalam The Cochrane Library.










































