"Jika Anda meletakkan tangan di depan mulut dan berbicara, situasinya sangat mirip dengan situasi janin di dalam sana. Anda masih dapat mendengar irama bicara, irama musik, dan sebagainya," kata Eino Partanen, ahli syaraf kognitif di University of Helsinki seperti dikutip dari Science Magazine, Selasa (27/8/2013).
Janin baru memiliki kemampuan mendengar saat trimester terakhir kehamilan. Saat itu, otaknya sudah dapat muendengar suara dari dunia luar. Dalam penelitian ini, saat usia kehamilan mencapai 29 minggu, 17 orang ibu hamil diberi rekaman suara wanita yang mengulang-ulangi kata 'tatata' ratusan kali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rekaman diputar selama 5 - 7 kali seminggu. Secara keseluruhan, bayi-bayi dalam penelitian sudah mendengar kata-kata tersebut lebih dari 25.000 kali saat dilahirkan. Untuk memastikan apakah bayi mengenali kata-kata, kesemua bayi dipasangi electroencephalograms (EEG) di kepalanya.
Di samping itu, ada 16 bayi yang tidak mendapat perlakuan khusus sebagai kelompok kontrol. Bayi yang masih ingat kata 'tatata' menunjukkan respon lebih kuat yang bisa diketahui dari hasil pemeriksaan EEG. Ternyata, bayi lebih merespon kata 'tatota' yang juga disebut respon mismatch.
"Reaksi saraf yang sama muncul ketika orang dewasa sedang belajar bahasa baru. Fakta bahwa mempelajari suara bisa dilakukan saat bayi masih dalam kandungan berarti bahwa pembelajaran bahasa tidak dimulai pada hari pertama kelahiran, tapi saat bayi di dalam rahim," kata Patricia Kuhl, direktur dari University of Washington National Science Foundation Science Learning Center.
Penelitian sebelumnya menemukan bahwa bayi bisa mendengar suara saat masih di dalam rahim. Bayi juga bisa mengingatnya setelah lahir. Dalam penelitian ini, bayi mendengarkan suara dalam bahasa ibunya, lalu diperdengarkan bahasa asing. Saat bayi mendengar suara yang tidak dikenal atau asing, mereka tertarik pada suara baru dan cenderung mengisap dot lagi.
(pah/up)










































