Bayi Belajar Bahasa Sejak dalam Rahim dan Masih Ingat Saat Dilahirkan

Bayi Belajar Bahasa Sejak dalam Rahim dan Masih Ingat Saat Dilahirkan

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Selasa, 27 Agu 2013 13:03 WIB
Bayi Belajar Bahasa Sejak dalam Rahim dan Masih Ingat Saat Dilahirkan
ilustrasi (Foto: Getty Images)
Jakarta - Banyak orang meyakini efek musik yang diputar saat kehamilan dapat membantu meningkatkan kecerdasan bayi dalam kandungan. Ternyata tak hanya musik saja, sebuah penelitian mengkonfirmasi bahwa janin dapat mendengar kata-kata saat di dalam rahim dan menirukannya setelah dilahirkan.

"Jika Anda meletakkan tangan di depan mulut dan berbicara, situasinya sangat mirip dengan situasi janin di dalam sana. Anda masih dapat mendengar irama bicara, irama musik, dan sebagainya," kata Eino Partanen, ahli syaraf kognitif di University of Helsinki seperti dikutip dari Science Magazine, Selasa (27/8/2013).

Janin baru memiliki kemampuan mendengar saat trimester terakhir kehamilan. Saat itu, otaknya sudah dapat muendengar suara dari dunia luar. Dalam penelitian ini, saat usia kehamilan mencapai 29 minggu, 17 orang ibu hamil diberi rekaman suara wanita yang mengulang-ulangi kata 'tatata' ratusan kali.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terkadang perkataaan akan berubah menjadi 'tatota' yang merupakan kata-kata pengalihan. Kata-kata ini dipilih karena hanya terdiri dari 3 suku kata dan dinilai cukup menantang bagi otak kecil untuk menemukan perubahan sekaligus membuatnya cukup sulit dipelajari.

Rekaman diputar selama 5 - 7 kali seminggu. Secara keseluruhan, bayi-bayi dalam penelitian sudah mendengar kata-kata tersebut lebih dari 25.000 kali saat dilahirkan. Untuk memastikan apakah bayi mengenali kata-kata, kesemua bayi dipasangi electroencephalograms (EEG) di kepalanya.

Di samping itu, ada 16 bayi yang tidak mendapat perlakuan khusus sebagai kelompok kontrol. Bayi yang masih ingat kata 'tatata' menunjukkan respon lebih kuat yang bisa diketahui dari hasil pemeriksaan EEG. Ternyata, bayi lebih merespon kata 'tatota' yang juga disebut respon mismatch.

"Reaksi saraf yang sama muncul ketika orang dewasa sedang belajar bahasa baru. Fakta bahwa mempelajari suara bisa dilakukan saat bayi masih dalam kandungan berarti bahwa pembelajaran bahasa tidak dimulai pada hari pertama kelahiran, tapi saat bayi di dalam rahim," kata Patricia Kuhl, direktur dari University of Washington National Science Foundation Science Learning Center.

Penelitian sebelumnya menemukan bahwa bayi bisa mendengar suara saat masih di dalam rahim. Bayi juga bisa mengingatnya setelah lahir. Dalam penelitian ini, bayi mendengarkan suara dalam bahasa ibunya, lalu diperdengarkan bahasa asing. Saat bayi mendengar suara yang tidak dikenal atau asing, mereka tertarik pada suara baru dan cenderung mengisap dot lagi.

(pah/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads