Masih Balita, Tapi Anak Ini Sudah Jalani Buka dan Pasang Tulang Tengkorak

Masih Balita, Tapi Anak Ini Sudah Jalani Buka dan Pasang Tulang Tengkorak

Tsalis Annisa - detikHealth
Jumat, 11 Okt 2013 09:07 WIB
Masih Balita, Tapi Anak Ini Sudah Jalani Buka dan Pasang Tulang Tengkorak
Ethan dan ibunya (Foto: Caters News Agency)
Oxford - Sejak masih dalam kandungan, balita ini sudah mengidap craniosynostosis. Karena itu di usia dua tahun, dia harus menjalani operasi buka pasang pada tulang tengkoraknya.

Dilansir Daily Mail, Jumat (11/10/2013), balita itu bernama Ethan Mair. Ia mengidap craniosynostosis, sebuah kondisi langka yang menyebabkan adanya tekanan menumpuk di tengkorak sebelum bayi lahir. Tanpa operasi, dia kelak akan kesulitan belajar dan menemui masalah pada penglihatan.

Kebanyakan bayi lahir dengan celah di dalam tulang tengkoraknya sehingga otak dapat tumbuh dengan baik. Namun tulang tengkorak Ethan justru sudah menyatu ketika ia dilahirkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ethan menjalani operasi selama lima jam di John Radcliffe Hospital di Oxford. Ahli bedah memecah tengkoraknya, lalu dibentuk kembali dan memasangnya kembali. Selama operasi ia kehilangan semua darah dalam tubuhnya. Namun untungnya, Ethan selamat dan dapat kembali ke rumahnya serta tidak memerlukan pembedahan lagi.

Ashlea (24), ibu dari Ethan, mengatakan, "Ketika saya menyadari bahwa tulang tengkorak Ethan akan dipecahkan dan dipasang kembali, saya sangat terkejut. Mereka menjelaskannya kepada saya seolah-olah tulang tengkoraknya seperti puzzle potongan gambar."

Ashlea juga mengatakan ia merasa sangat takut ketika ia menjalani operasi dan diberitahu bahwa ia telah kehilangan banyak darah di kepalanya bahkan hingga harus melakukan transfusi darah penuh untuk seluruh tubuhnya.

"Hati saya sangat pedih, aku bepikir apa yang sedang ia lalui sekarang. Namun dengan tulang tengkoraknya yang menyatu, otaknya tidak akan bisa tumbuh dan ia bisa berakhir dengan masalah dengan pandangan mata, bicara ataupun masalah pergerakan," ujar Ashlea.

Kini Ethan memiliki bekas luka berbentuk zigzag di kulit kepalanya. Namun bekas luka tersebut untungnya kelak dapat disembunyikan dengan dengan rambutnya.

Ashlea sebelumnya tidak menyadari ada masalah dengan anak bungsunya ini, hingga pada akhirnya seorang dokter menunjuk bentuk aneh dari kepalanya ketika Ethan baru saja berusia empat bulan. Ashlea mengatakan bahwa ketika dokter menunjukkan bentuk kepalanya, ia merasa terkejut.

"Dua minggu setelah itu saya mulai melihat ada masalah dengan penglihatannya. Saya tidak bisa melihat dia fokus sama sekali, seperti dia selalu melihat ke arah sebelah kanan saya," tutur Ashlea.

Akhirnya pada usia tiga bulan Ethan secara resmi didiagnosa mengidap craniosynostosis. "Saya tidak tahu apa itu dan tidak pernah mendengar soal itu sebelumnya. Jadi saya mulai mencarinya di internet dan itu menakuti diri sendiri. Saya membaca semua cerita yang mengerikan, dan sejak saat itu saya mulai stres. Pikiran tentang akan kehilangan anak laki-laki kecil saya sangat menakutkan," tuturnya.

Craniosynostosis adalah penyatuan tulang tengkorak prematur sebelum kelahiran, baik di satu tempat atau di banyak tempat. Secara normal, ketika seorang anak lahir, otaknya terbuat dari beberapa pelat. Jika lempengan tersebut telah secara prematur menyatu, otak tidak dapat tumbuh.

Selain itu sang anak anak mengalami rusak pada otak, dan tekanan pada otak jika tidak diobati. Di Inggris ada empat uni khusus di Alder Hay Hospital di Liverpool, Birmingham Childern's Hospital, John Radcliffe Hospital di Oxford, dan Great Ormon Street Hospital, yang merupakan spesialis dalam mengobati craniosynostosis.

Untuk anak dengan craniosynostosis jahitan tunggal, anak biasanya diberikan bedah di usia sekitar satu tahun.

(/mer)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads