Peneliti dari University of Queensland ini menuturkan bahwa meskipun beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat dari operasi caesar dan risiko obesitas, namun mereka melalui hasil penelitiannya bisa membuktikan kembali bahwa dua hal tersebut tidak memberi pengaruh secara signifikan. Dari para responden berusia 21 tahun yang terlibat, mereka mengungkapkan bahwa ukuran pinggang responden tidak memiliki keterkaitan dengan cara mereka dilahirkan.
"Data ini tidak mendukung gagasan bahwa operasi caesar adalah alasan anak-anak menjadi obesitas. Walaupun baik operasi caesar maupun tingkat anak obesitas sedang meningkat, namun keduanya tidak berhubungan," ujar Dr Loralei Thornburg, ahli kehamilan berisiko tinggi di University of Rochester Medical Center, New York, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hanya karena Anda terpaksa harus melakukan operasi caesar, bukan berarti Anda telah memberatkan hidup anak Anda karena membuatnya obesitas. Ada begitu banyak hal lain yang memberi pengaruh lebih kuat terhadap obesitas," tutur Dr Loralei, seperti dikutip dari News Max Health, Selasa (12/11/2013).
Meskipun demikian, Dr Loralei menegaskan bahwa meskipun sebagian wanita bisa memilih apakah ia ingin melahirkan secara normal atau melalui operasi caesar, lebih baik mereka melahirkan secara normal saja. Mengapa?
"Setiap orang harus menghindari dilakukannya pembedahan perut besar jika memang mereka bisa. Melakukan operasi caesar berarti meningkatkan risiko adanya bekas luka, infeksi dan komplikasi di masa depan.
Pernyataan Dr Loralei didukung oleh rekomendasi American College of Obstetricians dan Gynecologists. Mereka mengatakan bahwa proses melahirkan normal lebih direkomendasikan ketika tidak ada tanda-tanda bahwa ibu atau bayi terpaksa harus melakukan operasi caesar.
(ajg/)










































