Pemberian Makanan Bayi Lebih Penting Daripada Politik yang Carut-marut

Pemberian Makanan Bayi Lebih Penting Daripada Politik yang Carut-marut

M Reza Sulaiman - detikHealth
Kamis, 28 Nov 2013 19:21 WIB
Pemberian Makanan Bayi Lebih Penting Daripada Politik yang Carut-marut
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Pemberian makanan bergizi untuk bayi hingga usia dua tahun sangatlah penting. Sebab apa yang dia makan akan berpengaruh pada kondisi kesehatan dan perkembangan otaknya. Bahkan pemberian makanan bayi dianggap lebih penting ketimbang kondisi politik yang carut-marut.

"Masa-masa pemberian gizi pada bayi sampai 2 tahun lebih penting daripada politik kita yang carut marut," ujar Kasubdit Gizi Makro, Direktorat Gizi Kementerian Kesehatan RI, Entos Zainal, MPHM, saat kampanye 'Dari Usia 1 Bersama Scott's'- Penghargaan Atas Dedikasi Para Kader Gizi se-Jabodetabek di Restoran Kembang Goela, Jl Sudirman, Jakarta, Kamis (28/11/2013).

Karena itu menurut Entos, edukasi kepada orang tua mengenai pentingnya asupan gizi pada golden age anak, yaitu 1.000 hari pertama kehidupan sangat penting. "Masa-masa pemberian gizi pada bayi sampai 2 tahun lebih penting daripada politik kita yang carut marut," paparnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Asupan yang kaya gizi, lanjutnya, akan berpengaruh pada sumber daya manusia di Indonesia. Jika gizinya kurang, tentu saja perkembangan tubuhnya juga tidak baik.

Menurut dia, masalah gizi saat ini bukan hanya masalah kesehatan, namun juga masalah keadilan. "Kalau ada orang tua yang mampu merokok dan makan enak, namun tidak mau membelikan anaknya susu, itu tidak adil namanya. Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan hal-hal seperti ini," terangnya.

Meski ada sebagian yang mengalami defisiensi atau kekurangan berbagai komponen gizi mikro, para ahli juga mengingatkan adanya risiko kelebihan gizi. Sama halnya dengan kekurangan gizi, kelebihan gizi juga menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Menurut Ketua Pergizi Pangan Indonesia, Prof Hardinsyah, beberapa waktu lalu, faktor daya belilah yang akhirnya membuat asupan gizi tidak seimbang.

Di Indonesia, harga beras dinilainya lebih murah dibanding sumber-sumber pangan hewani. Akibatnya, anak-anak lebih banyak mengonsumsi karbohidrat dibandingkan komponen gizi lain yang tidak kalah penting, termasuk seng, zat besi dan asam folat.

(/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads