Studi Ini Klaim Risiko Alzheimer Seseorang Sudah Terlihat Sejak Bayi

Studi Ini Klaim Risiko Alzheimer Seseorang Sudah Terlihat Sejak Bayi

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Jumat, 29 Nov 2013 09:33 WIB
Studi Ini Klaim Risiko Alzheimer Seseorang Sudah Terlihat Sejak Bayi
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Alzheimer atau istilah lain untuk kepikunan pada lansia ternyata bukan terjadi ketika seseorang beranjak tua, namun sudah terlihat sejak bayi. Setidaknya inilah yang ditemukan sebuah studi baru dari Amerika ini.

Hal ini utamanya terjadi pada orang-orang yang memang secara genetik rentan terkena Alzheimer. Menurut peneliti, otak orang-orang ini sudah terlihat berbeda sejak bayi. Demikian dilansir Livescience, Jumat (29/11/2013).

Peneliti mendapatkan kesimpulan semacam itu setelah memindai otak 162 bayi sehat, termasuk 60 bayi di antaranya yang mewarisi gen bernama APOE-e4, yang meningkatkan risiko seseorang terkena Alzheimer setelah usianya mencapai 65 tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bayi-bayi ini berusia antara dua bulan sampai dua tahun yang tidak mempunyai riwayat Alzheimer atau gangguan psikiatri dalam keluarganya. Otak mereka dipindai dengan menggunakan mesin MRI khusus yang tak bising sehingga dapat dipasangkan pada bayi ketika mereka tengah terlelap.

Dan ketika dibandingkan dengan bayi-bayi tanpa gen APOE-e4, bayi dengan gen tersebut dilaporkan otaknya mengalami sedikit pertumbuhan di beberapa area tertentu, terutama di otak bagian tengah dan belakang, area yang sama dengan yang cenderung ditemukan pada pasien Alzheimer lansia. Sebaliknya mereka cenderung mengalami banyak pertumbuhan di area otak bagian depan.

Namun peneliti menegaskan apabila temuan mereka masih preliminer, dan perubahan otak yang terlihat pada bayi dengan APOE-e4 tidak serta-merta dapat dijadikan gejala awal dari Alzheimer. Perbedaan otak bayi yang terlihat dalam studi juga bukan berarti si bayi ditakdirkan untuk mengidap penyakit kepikunan tersebut.

"Hasilnya tidaklah menunjukkan adanya kaitan langsung dengan perubahan otak yang terlihat pada pasien Alzheimer. Tapi dengan riset lebih lanjut, mereka mungkin bisa mengatakan kepada kita bagaimana gen itu berkontribusi terhadap risiko Alzheimer di kemudian hari," tandas peneliti Sean Deoni dari Advanced Baby Imaging Lab, Brown University, AS.

Di Amerika sendiri, 25 persen populasinya mempunyai gen APOE-e4 tapi tidak semua orang yang punya gen tersebut akan mengidap Alzheimer. Namun tak dapat dipungkiri jika makin banyak salinan gen APOE-e4 yang dimiliki seseorang, makin besar pula risiko kepikunannya. Dan di antara pasien Alzheimer, 60 persen di antaranya mempunyai satu salinan gen APOE-e4.

Sayang tak diketahui juga bagaimana gen APOE-e4 dapat meningkatkan risiko Alzheimer seseorang, namun nampaknya hal ini juga dipengaruhi faktor lain, misalnya keberadaan gen lainnya atau paparan di lingkungan tertentu, yang bekerja sama untuk menghasilkan perubahan otak yang nantinya berujung pada Alzheimer.

(/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads