Bayi yang Sebagian Otaknya di Luar Kepala Akhirnya Bertahan Hidup

Bayi yang Sebagian Otaknya di Luar Kepala Akhirnya Bertahan Hidup

- detikHealth
Jumat, 07 Feb 2014 08:08 WIB
Bayi yang Sebagian Otaknya di Luar Kepala Akhirnya Bertahan Hidup
(Foto: evening gazette)
Jakarta - Dokter hanya memberinya peluang yang kecil untuk bertahan hidup karena Faith Martin terlahir dengan sebagian otak berada di luar kepala. Namun ia berusaha menepis anggapan itu.

Kedua orang tua Faith, Jessica Williams (20) dan Aaron Martin (21) sebenarnya sudah diwanti-wanti sejak usia kandungan Jessica masih 17 minggu. Saat itu mereka memeriksakan kandungan Jessica di James Cook University Hospital, Middlesbrough dan mereka diberitahu bahwa calon bayi mereka mengidap kondisi langka yang disebut dengan 'encephalocele'.

Encephalocele merupakan benjolan dari sebagian otak, termasuk membran yang menyelimutinya yang posisinya keluar dari tengkorak. Kondisi ini terjadi ketika tabung saraf atau semacam jalan penghubung antara embrio dengan sistem saraf pusat yang berisi otak dan saraf tulang belakang tidak dapat menutup sempurna selama masa kehamilan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya pergi untuk menjalani scan pertama saya dan mereka mengatakan ada masalah. Saya syok mendengar bila mereka langsung tahu jika tengkoraknya tak dapat menyatu dengan sempurna dan ada lubang di belakang tengkoraknya," kisah Jessica seperti dilansir Daily Mail, Jumat (7/2/2014).

Yang tak kalah mengejutkan, dokter mengatakan peluang hidup bayi-bayi dengan kondisi seperti ini biasanya kecil, bahkan banyak yang tak bisa hidup lama. Kalaupun bisa mereka harus bertahan dengan kondisi otak yang rusak dan gangguan saraf lainnya, hingga banyak orang tua yang memutuskan menggugurkan kandungannya.

"Keputusan untuk menggugurkan (kandungan) diserahkan sepenuhnya kepada kami. Tapi bila ada harapan, maka kami ingin memberikan itu padanya. (menggugurkan kandungan) Tak pernah sedikit pun terlintas dalam benak kami," urainya.

Pasangan muda ini pun menemui seorang konsultan dari Royal Victoria Infirmary, Newcastle (RVI) yang menawari mereka sebuah harapan. Pertama, agar benjolannya tak mengalami kerusakan, Jessica disarankan untuk melahirkan lewat operasi Caesar.

Namun ternyata ketuban Jessica pecah lebih awal dan mau tak mau operasi Caesar pun dilakukan. Faith pun lahir pada bulan Oktober 2013. Keesokan harinya Jessica dan Aaron sudah diperbolehkan membawa putri kedua mereka itu pulang, namun mereka harus bersedia memeriksakan Faith setiap minggunya.

Empat hari setelah lahir, Faith menjalani scan MRI. Namun benjolan sebagian otak Faith itu juga terus tumbuh hingga pada bulan Desember diameternya mencapai 21 cm. Padahal ketika lahir, diameternya hanya sepanjang 6 cm.

Jessica sendiri mengaku kesulitan ketika merawat Faith karena benjolan itu terasa menyakitkan ketika disentuh. "Ia begitu kesakitan dan hanya bisa merebahkan tubunya dalam keadaan miring," terangnya.

Akhirnya operasi digelar di RVI pada tanggal 10 Januari 2014 ketika usia Faith memasuki tiga bulan. Tim bedah mengangkat benjolan di kepalanya (berisi kelebihan cairan otak dan materi otak yang sudah mati) dan memindahkan kelebihan cairan otak lainnya ke perut Faith.

Operasi ini berhasil dan Faith dinyatakan sembuh meski harus menjalani scan MRI setiap enam bulan sekali, termasuk check-up rutin untuk memastikan bocah ini tumbuh sesuai harapan dokter maupun orang tuanya.

"Kami pulang dan ia akhirnya bisa melakukan apapun yang ia inginkan. Ia akan hidup normal untuk selamanya," tutur Jessica bahagia.

(lil/vit)

Berita Terkait