Peneliti menemukan fakta ini setelah mengamati 14 mesin penidur bayi yang kebanyakan dijual di Amerika dan Kanada. Ke-14 mesin tersebut dapat memainkan 65 suara pada volume maksimal dan peneliti mencoba memperdengarkannya dari tiga jarak yang berbeda; 30 cm, 100 cm, dan 200 cm (seberang ruangan).
Ternyata ketika dinyalakan dengen volume maksimal, seluruh mesin yang diamati peneliti mengeluarkan suara melebihi 50 desibel (dBA), standar batas intensitas suara mesin yang ada di rumah sakit, terutama ketika diletakkan di jarak 30 cm dan 100 cm.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari ke-14 mesin yang diuji peneliti, cuma ada satu mesin yang tidak mencapai level 50 dBA, meski diletakkan pada jarak 200 cm dari si bayi.
Bahkan salah satu peneliti senior dalam studi ini, Dr. Blake Papsin, kepala divisi THT dari Hospital for Sick Children, Toronto mengatakan ia juga khawatir white noise ini dapat mengganggu perkembangan otak si bayi mengingat bayi perlu mendengar berbagai jenis suara untuk mendewasakan otaknya.
Untuk itu peneliti mendesak para orang tua agar menurunkan volume mesin penidur bayi mereka atau memindahkan mesin tersebut minimal sejauh 200 cm dari si bayi agar pendengarannya tak terganggu kelak. Kalau perlu standar mesin penidur bayi harus dinaikkan karena telinga bayi sendiri sangat sensitif, bahkan melebihi telinga orang dewasa.
"Ketika kami membuat modelnya, dari situ kami menemukan bahwa perkiraan tekanan suara yang kita gunakan berikut tingkat keamanannya tampaknya kurang diperhatikan, padahal telinga bayi bisa jadi jauh lebih rentan daripada telinga orang dewasa," tegas Dr Papsin seperti dikutip dari CBS News, Selasa (4/3/2014).











































