"Stres merupakan hasil dari stimulus yang sangat besar. Tidak hanya orang dewasa, bayi pun juga bisa stres, bahkan sejak di dalam kandungan. Stres saat masih berada dalam kandungan tak terlepas dari stres yang dialami ibu," ujar Rini Hildayani, MSi, psikolog anak dan dosen di Fakultas Psikologi UI, dalam acara diskusi 'Gut Brain Axis: Pencernaan Sehat si Kecil Cerdas', yang diselenggarakan di Hotel Gran Melia, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, dan ditulis pada Jumat (4/4/2014).
Dilanjutkan oleh Rini, dari hasil penelitian ditemukan bahwa semakin tinggi usia kandungan maka hormon stres pun akan meningkat. Nah, perubahan hormon tersebut turut masuk ke dalam plasenta dan akhirnya mempengaruhi janin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Iya dia harus survive dengan menangis atau menghisap untuk mendapatkan makanan," papar Rini.
Bayi yang sedang stres biasanya menunjukkan adanya perubahan perilaku yang tak seperti biasanya, misalnya menjadi rewel, mudah frustasi, sering menangis, marah sampai meledak-ledak, dan muncul gangguan kesehatan.
Sementara faktor penyebab stres pada bayi juga beragam, bisa jadi karena ia merasa ada bagian tubuhnya yang nyeri. Selain itu, bayi juga bisa stres jika ia merasa lapar, berada dalam kondisi yang membuatnya tak nyaman atau tidak menemukan seseorang yang membuatnya nyaman, yang dalam hal ini seharusnya diperankan oleh orang tua.
Stres atau tekanan pada anak dapat mempengaruhi fungsi saluran cerna, sementara faktanya kesehatan saluran cerna sangat penting dijaga karena turut mengoptimalkan proses perkembangan otak anak.
(ajg/vit)











































