Ada beberapa wanita yang menolak kehadiran bayi di kandungannya misalkan ketika ia hamil akibat perkosaan atau berhubungan seks sebelum menikah. Kondisi penolakan ibu ini pun bisa dirasakan janin dan mempengaruhi pertumbuhannya.
"Perasaan tidak nyaman akibat penolakan ibu nantinya akan tersambung ke otak bayi sehingga bayi di kandungan tahu bahwa kehadirannya ditolak. Saat lahir, bayi akan menjadi individu yang inferior, tidak percaya diri, merasa rendah diri dan tak diharapkan, serta memiliki kendala emosi," kata psikolog klinis Veronica Adesla saat ditemui di kantor Personal Growth, Jl Taman Aries, Meruya, Jakarta Barat dan ditulis pada Senin (28/4/2014).
Bahkan, anak bisa jadi sensitif saat dia disentuh orang lain atau kesulitan bersosialisasi karena merasa dirinya terluka dan salah telah hadir di dunia ini, demikian diungkapkan wanita yang akrab disapa Vero ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menangani anak seperti itu, dengan mengubah sisi kognitif, emosi dan perilakunya. Mengubah sisi kognitif anak dengan memastikan apakah situasi dan anggapan orang lain yang dipikirkan anak benar atau tidak. Sehingga anak tak termakan dengan perasaan dia sendiri.
Kemudian, mengubah emosi dengan relaksasi dan sugesti. Lalu mengubah perilakunya dengan mengajak ia bersosialisasi dengan orang lain. Apalagi jika sampai depresi anak tidak akan mau keluar kamar dan bertemu dengan orang.
"Kita ajak dia ketemu orang lain, ngobrol sehingga dia tau kalau orang lain itu respect sama dia jadi dia nggak perlu terlalu sensitif dan depresi. Tapi itu bertahap ya dilakukannya," pungkas Vero.
(rdn/vit)











































