Prof dr Muhammad Juffrie, Sp.A (K), Ph.D., menerangkan kelainan saluran cerna merupakan penyebab terbesar kolik.
"Mungkin karena ada trauma dari radang, atau sebenarnya saluran cerna si bayi masih immature (belum sempurna). Dan ini baru mature ketika usia si anak memasuki empat bulan," terangnya dalam Seminar Kebijakan dan Asuhan Nutrisi Sejak Kehamilan dan Tumbuh Kembang Anak di Hotel Grand Quality Yogyakarta, seperti ditulis Selasa (29/4/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bayi pun bisa kembung karena gerakan ususnya tidak normal, entah itu kurang aktif atau malah cenderung berlebihan dan absorpsi (penyerapan) karbohidrat yang belum sempurna sehingga menghasilkan gas berlebihan.
Bahkan bukan hanya karena soal maturitas dan gerakan usus, perbedaan mikrobiota dalam saluran cerna pun ikut mempengaruhi risiko kolik pada bayi. Karena menurut sebuah penelitian, bakteri patogen seperti Klebsiella sp, bakteri Coliform, E coli dan Lactobacillus sp lebih banyak ditemukan pada bayi kolik.
"Ini artinya flora usus bayi kolik tidak normal, karena bakteri yang menguntungkan ususnya lebih sedikit," tegas Prof Juffrie.
Selain itu, alergi pada protein susu sapi juga dikatakan Prof Juffrie dapat memicu bayi kolik. "Bisa ditanya dulu apa bapak atau ibunya alergi susu. Kalau memang iya, penanganannya ya hindari susu sapi. Begitu juga dengan ibunya, termasuk menghindari produk turunan dari susu sapi itu sendiri," pungkasnya.










































