Pada tahun 2010, pria yang tak disebutkan namanya itu berada di rumah hanya dengan putrinya yang saat itu berusia 3 minggu. Setelah ibu dan nenek si bayi pulang, bocah cilik tersebut terlihat pucat dan tubuhnya dingin.
Setelah dibawa ke RS terdekat, diketahui si anak mengalami kekurangan oksigen di otak dan ia mengalami cedera serius hingga kejang-kejang. Awalnya, sang ayah tak mengakui perbuatannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Si pria pun akan menghadapi putusan pengadilan dalam sidang yang rencananya digelar pada bulan Oktober mendatang. Ia dikenai pasal tindakan lalai yang berakibat luka berat pada anak di bawah umur. Menurut penyidik, pria tersebut juga memiliki masalah mental.
Menurut Jeffrey Barth, PhD, dari Department of Neurological Surgery, University of Virginia School of Medicine, menggoyangkan anak ke atas dan ke bawah bisa menimbulkan guncangan keras dan cedera pada kepala. Apalagi ketika si anak agak besar, orang tua kerap 'melempar' anak ke atas lalu menangkapnya.
"Inilah yang disebut Shaken Baby Syndrome. Struktur otak anak sangat beda dengan otak orang dewasa. Gerakan sentrifugal menyebabkan cedera pada otak anak khususnya kerusakan pada bagian pembuluh darah di bagian atas otak. Saat cedera sangat parah bisa terjadi perdarahan di otak," terang Jeffrey.
Menurut Jeffrey, ketika diguncang-guncangkan apalagi dilempar ke udara, otak anak yang ukurannya relatif lebih kecil akan mengalami pergerakan dan ketika goncangan terlalu keras, otak bisa membentur tengkorak dan akhirnya timbullah trauma. Pemberian oksigen atau operasi pun menjadi cara untuk mengatasi trauma ini.
(rdn/up)











































