Jangan Salah, Bayi 15 Bulan Bisa Kenali Kemarahan Orang Tuanya Lho

Jangan Salah, Bayi 15 Bulan Bisa Kenali Kemarahan Orang Tuanya Lho

- detikHealth
Rabu, 15 Okt 2014 14:55 WIB
Jangan Salah, Bayi 15 Bulan Bisa Kenali Kemarahan Orang Tuanya Lho
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Karena wajahnya yang masih imut dan tampak tak berdosa, mungkin tak pernah terbersit dalam benak kita bila bayi bisa memahami apa yang orang dewasa lakukan. Namun penelitian ini berkata lain.
 
Sebuah penelitian yang dilakukan tim peneliti dari University of Washington menemukan di usia 15 bulan bayi sudah bisa merasakan kemarahan orang dewasa yang ada di sekitarnya atau tidak, hanya dengan memperhatikan mereka.

Tak hanya itu, bahkan bayi juga bisa menggunakan hasil pengamatannya tersebut sebagai panduan untuk mengubah perilakunya agar bisa beradaptasi keadaan tersebut.

Dalam percobaan, peneliti melibatkan 150-an bayi berumur 15 bulan, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka diminta duduk di pangkuan orang tua masing-masing lalu peneliti duduk di seberang mereka untuk memperagakan bagaimana caranya menggunakan berbagai jenis mainan.
 
Setiap mainan memiliki bagian yang dapat digerakkan dan menimbulkan suara, seperti serangkaian manik-manik dari plastik yang akan bersuara ketika dijatuhkan ke dalam sebuah cangkir plastik dan kotak kecil yang akan 'berdengung' ketika ditekan dengan tongkat dari kayu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tiap anak tampak memperhatikan demo tersebut dengan seksama, bahkan beberapa di antaranya membungkukkan badannya ke depan dan menunjuk-nunjuk mainan tersebut.

Lalu tiba-tiba muncul peraga kedua. Sesaat setelah memasuki ruangan, ia duduk di kursi dekat meja si bayi dan peneliti. Setelah mengulangi peragaannya, si orang kedua ini tampak mengeluh dengan suara marah dan mengatakan apa yang dilakukan dengan peneliti dan mainannya membuatnya terganggu.

Selepas menyaksikan 'adegan drama' singkat tadi, masing-masing bayi dipersilakan bermain dengan mainan yang ada tadi, namun dengan situasi yang berbeda-beda. Di situasi pertama, selepas 'bermain drama', si peraga kedua tadi meninggalkan ruangan atau memunggungi si bayi.
 
Di situasi kedua, si peraga kedua memasang wajah netral sembari membaca majalah atau sesekali mengamati si bayi. Ternyata di situasi pertama, si bayi langsung bersemangat mengambil mainan yang disediakan untuknya dan menirukan aksi si peraga pertama atau peneliti.

Sedangkan bayi yang dihadapkan pada situasi kedua terlihat ragu untuk menyentuh mainan yang ada di depannya. Rata-rata mereka menunggu hingga empat detik lamanya, baru berani memegang mainan tersebut. Kalaupun berhasil memegang mainan, mereka cenderung tidak menirukan apa yang dilakukan peraga pertama tadi dengan mainan tersebut.

"Diduga anak yang terbiasa melihat orang tuanya bertengkar atau menonton acara televisi yang bertema kekerasan bisa membuat sebagian anak jadi peka terhadap kemarahan orang di sekitarnya. Atau lebih sensitif terhadapnya, termasuk cenderung memberikan reaksi berlebih ketika hal itu terjadi," simpul ketua tim peneliti, Betty Repacholi.
 
"Dari studi ini kami jadi tahu di usia 15 bulan, di usia yang seharusnya mereka belum bisa bicara ternyata bayi sudah bisa mencoba memahami keadaan sosial di sekitarnya, hanya dengan menggunakan kemampuan visual dan petunjuk sosial tertentu. Ini luar biasa," tutup Repacholi seperti dikutip dari jurnal Cognitive Development, Rabu (15/10/2014).

(lil/vta)

Berita Terkait