Bisa Hangatkan Bayi Lahir Berbobot Rendah, Begini Mekanisme Kerja Inkubator

Bayi dalam Inkubator

Bisa Hangatkan Bayi Lahir Berbobot Rendah, Begini Mekanisme Kerja Inkubator

- detikHealth
Kamis, 30 Okt 2014 13:35 WIB
Bisa Hangatkan Bayi Lahir Berbobot Rendah, Begini Mekanisme Kerja Inkubator
Foto: Dika / detikHealth
Jakarta -

Inkubator bukan alat yang asing bagi tenaga kesehatan, khususnya yang berkecimpung di bagian persalinan. Alat ini lazim digunakan untuk memberi kehangatan bayi yang lahir prematur alias tidak cukup bulan maupun bayi yang lahir dengan bobot di bawah 2.500 gram. Bagaimana mekanisme kerja inkubator?

Guru Besar di Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Prof Dr Ir Raldi Artono Koestoer, DEA, menjelaskan mekanisme penggunaan inkubator hampir sama prinsipnya dengan penggunaan Air Conditioner (AC) di luar negeri. Jika di Indonesia, AC lebih digunakan untuk mendinginkan ruangan, namun di negara-negara dingin AC digunakan untuk menghangatkan ruangan.

Nah, inkubator pun sama seperti AC yang fungsinya menghangatkan ruangan. Cara kerjanya, energi panas yang ada di luar rungan akan ditransfer ke dalam ruangan sehingga akan membuat ruangan menjadi hangat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita ambil energi dari dalam ruangan kemudian kita buang ke luar. Nah inilah yanng digunakan AC di sini, akibatnya temperatur turun. Sebaliknya bila kita menghangatkan ruangan maka kita mengembalikan energi ruangan dari luar kemudian masuk ke dalam. Nah ini (inkubator) fungsinya menghangatkan, jadi kita memberikan energi dari luar agar dimasukkan ke dalam," ujar Prof Dr Ir Raldi Artono Koestoer, DEA saat ditemui detikHealth di Gedung Teknik Mesin, Universitas Indonesia dan ditulis pada Kamis (30/10/2014).

Memang bukan serta-merta mengalirkan energi dari luar ke dalam inkubator, tapi perlu diberi cara agar energi panasnya tetap pada titik tertentu. "Kalau kita berikan energinya berlebihan panasnya apa yang terjadi? Panasnya tinggi. Jadi kita harus memberikan energi secukupnya agar tetap stay panasnya pada titik tertentu. Nah dalam hal itu kita atur jumlah energinya dengan alat, karena panas di sini berarti kita atur kalornya," imbuh Prof Raldi.

Ditempat yang sama Asisten laboraterium Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia Ibnu Roihan S.T menjelaskan bahwa inkubator sudah dilengkapi dengan pengatur suhu sehingga suhu yang ada didalam inkubator akan stabil, bilapun pengatur suhu mengalami kerusakan hanya akan menaikan suhu 1 hingga 2 derajat celcius.

"Di dalam inkubator terdapat sirkuit pengaturan suhu yang membuat stabil suhu di dalam inkubator tersebut. Bilamana alat pengatur suhu rusak maka hanya akan menaikan suhu 1 hingga 2 derajat saja. Idealnya suhu di dalam inkubator sekitar 32 derajat Celcius," ujar Ibnu.

Ada cara untuk menyesuaikan panas, sehingga bayi yang berada di dalamnya tidak akan kepanasan. Namun demikian beberapa waktu lalu mencuat kabar bayi yang meninggal karena kepanasan di inkubator. Fadli, orang tua dari Fadhlan Khairy Al-Faiq, menduga anaknya yang lahir kembar dan prematur meninggal karena kepanasan saat masih di dalam inkubator.

Bayi itu lahir prematur pada Selasa (21/10). Sebelumnya si bayi dirawat di dalam inkubator di RS Bersalin Bunda, Jalan Pengayoman, Makassar, selama tiga hari. Namun karena kondisinya semakin melemah maka bayi Fadlan dirujuk ke RS Catherina Booth.

Dua hari kemudian setelah masa perawatan, bayi Fadhlan yang lahir lebih dulu sebelum adiknya, Fayyadh Zafran Al-Faiq, meninggal dunia. "Pihak rumah sakit Catherina Booth menyebutkan punggung bayi Fadhlan mengalami luka bakar di punggungnya saat masih dalam perawatan RSB Bunda," ujar Fadli.

Namun tim medis RS Bunda menjelaskan bahwa informasi bayi terbakar di ruang inkubator tidak betul. Sebab di alat inkubator tidak ditemukan bekas kebakaran. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan aparat Polsek Panakukang terkait kejadian itu.

"Kami tidak bisa menyimpulkan penyebab meninggalnya bayi karena meninggalnya di RS lain," kata dokter Darni Tangsa saat dikonfirmasi.

(vit/up)

Berita Terkait