Sebenarnya transplantasi bukanlah hal baru dalam dunia medis. Namun yang menjadikan kisah ini menarik adalah kedua wanita tersebut bisa merasakan proses persalinan setelah mendapatkan 'sumbangan' rahim dari ibu mereka masing-masing. Dan bagi tim dokter asal Swedia, ini merupakan suatu kebanggaan karena yang pertama dilakukan di dunia.
Kedua wanita yang dirahasiakan namanya tersebut bersama ketujuh wanita lainnya merupakan pasien pertama yang mendapat kesempatan untuk mencoba prosedur baru ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selepas itu, rahim dari sang ibu tadi lantas ditransplantasi atau ditanamkan ke dalam tubuh putri mereka lewat tindakan bedah yang menghabiskan waktu selama enam jam. Untuk mencegah agar rahim donor itu tidak 'ditolak' di tubuh penerimanya, dokter juga menyuntikkan obat imunosupresan yang sangat kuat.
Tim dokter harus menunggu setidaknya selama satu tahun agar dapat dipastikan apakah rahim itu sudah bisa 'ditanami' embrio atau belum. Setelah dinyatakan sukses, barulah tim dokter berani memasukkan embrio yang dibekukan tadi ke dalam rahim si pasien. Tak lupa pasien dipantau sejak hari pertama embrio ditanam hingga hari persalinan tiba.
Ternyata, yang pertama melahirkan adalah wanita yang lahir tanpa rahim. Setelah mendapatkan 'sumbangan' rahim dari seorang rekannya yang telah menopause, wanita berumur 29 tahun itu pun melahirkan bayi laki-laki dengan berat 2,5 kg di bulan September.
Bayi ini kemudian ia beri nama Vincent, yang berarti 'penakluk', untuk mengingatkan perjuangannya agar bisa menjadi seorang ibu. "Ketika saya menyentuhnya untuk pertama kali, saya begitu takjub karena berhasil melakukannya. Saya tak pernah menyangka bisa memiliki anak," tuturnya.
Sedangkan pasien kedua yang berusia 34 tahun juga melahirkan bayi laki-laki di bulan Oktober, dengan berat 2,7 kg. Keduanya sama-sama melahirkan lewat persalinan operasi caesar di Swedia dan ditangani tim dokter yang diketuai oleh Prof Mats Brannstrom dari Gothenberg University.
Salah satu ahli janin dari King's College London yang terlibat dalam proyek ini, Henrik Hagberg, optimistis prosedur ini akan bermanfaat bagi wanita-wanita lain yang ingin punya anak tapi tak punya rahim karena berbagai faktor.
Ia juga mengapresiasi para donor yang rela memberikan rahim mereka kepada anak maupun orang yang lebih membutuhkan. "Bagi para ibu, mungkin ini adalah hadiah terbaik yang bisa mereka berikan untuk anak perempuannya," tutupnya seperti dikutip dari Daily Mail, Sabtu (6/12/2014).
(lil/ajg)











































