Seperti penuturan dr Wiyarni Pambudi SpA, IBCLC selaku Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia (SELASI), menyusui dan pemberian MP-ASI berkualitas adalah usaha penyelamatan nyawa bayi dalam kondisi darurat termasuk ketika ada bencana.
"Kita berusaha membantu ibu agar tetap menyusui, memberi MP-ASI berkualitas dan tidak tergantung pada pabrikan supaya bayi tidak terancam penyakit saat bencana," kata dr Wi, ditemui di Hotel Cipta 2, Mampang, Jakarta Selatan, Rabu (10/12/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berangkat dari fenomena tersebut, pasca bencana Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten bersama UNICEF dan SELASI melakukan peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan konselor menyusui dan juga pelatihan para kader sebagai motivator ASI. Selain itu, dilakukan pula inisiasi peraturan dan implementasi kebijakan lokal yang secara konsisten melindungi, mempromosikan dan mendukung kegiatan menyusui.
"Pada tahun 2010 ketika terjadi erupsi Gunung Merapi, tidak lagi ditemukan kasus bayi diare di kabupaten Klaten selama masa pengungsian. Berarti kan memang penting untuk menjamin ibu tetap memberi ASI dan bayi mendapat MP-ASI yang berkualitas untuk menekan risiko anak terkena penyakit saat terjadi bencana," papar dr Wi.
Maka dari itu, dr Wi berharap ketika terjadi bencana, bantuan berupa donasi susu formula atau makanan bayi instan bisa dikoordinasikan dengan Dinas Kesehatan setempat. Donasi berupa apron untuk menutupi payudara ibu ketika menyusui juga bisa membantu lancarnya pemberian ASI pada anak saat bencana.
"Kalau ibu sudah biasa bikin MP-ASI di rumah, kita usahakan lewat dapur umum yang biasanya dikoordinir oleh organisasi supaya bisa memfasilitasi tersedianya MP-ASI. Kalau ada sumbangan makanan atau camilan buat ibu supaya lebih happy, juga dengan adanya dukungan dari masyarakat atau motivator kan ASI-nya bisa tetap lancar keluar," pungkas dr Wi.
(rdn/up)











































